Jumat, Oktober 10, 2014

Psikologi/ Psikoanalisis Sastra

Psikologi/ Psikoanalisis Sastra

            Analisis psikologi dalam uraian ini mengacu dari psikoanalisis dalam strukturalisme (Ferdinand Lacan). Tamhan analisis ini dikutip dari uraian Darma dalam bukunya Pengantar Teori Sastra. Adapun uraian yang dimaksud berikut ini.
            Karena psikoanalisis dipergunakan dalam kritik sastra, psikoanalisi juga berkembang mengikuti perkembangan sastra. Perkembangan psikoanalisis dalam sastra yang paling penting adalah psikoanalisis dalam strukturalisme, Ferdinan Lacan, mempelajari psikoanalisis Freud bukan melalui psikologi, namun melalui strukturalisme. Sebagaimana halnya Freud, Lacan adalah dokter, kemudian mengambil spesialisasi psikiatri.
            Selaku psikiatris, Lacan berhubungan ndengan para penderita paranoia. Hubungannya dengan salah seorang pasiennya, Aimee, kemudian dikembangkan menjadin disertasi. Dalam perkembangan perjalanan hidupnya Lacan merasa kecewa terhadap pengembangan psikoanalisis Freud yang dilakukan oleh para psikolog. Karena itu dia bertekad untuk “kembali ke dasar” , yaitu ke psikoanalisis Freud.
            Kendati dia kembali ke Freud, titik berat dia bukanlah kesadaran personalitas sebagai sarana untuk mengetahui ketidaksadaran pikiran, namun usaha untuk mengetahui mekanisme kerja kesadaran pikiranitu sendiri. Bagi Lacan, kesadaran pikiran adalah nucleus keberadaan kita. Ketidaksadaran  pikiran sementara itu, adalah intisari keberadaan kita.
            Salah satu kritik sastra Lacan yang penting adalah usaha untuk memahami cerpen Edgar Allan Poe “Surat yang Dicuri” (The Purloined Lette). Cerpen ini dianggap sebagai salah satu pelopor cerpen detektif di  Amerika. Tokoh-tokoh dalam cerpen ini adalah Ratu, Raja, Menteri, Kepala Polisi, dan detektif Dupin.
            Perkembangan alu Surat yang Dicari dapat dirinci sebagai berikut.
1.      Menteri sedang berdiskusi dengan Ratu, lalu dengan mendadak dan tanpa diduga, Raja dating. Raja tahu bahwa Ratu bersusaha agar Raja tidak mengetahui surat di tangan Ratu, namun Ratu tidak dapat menyembunyikannya. Ketika perhatian Raja dan Ratu sedang tidak berada pada surat itu. Menteri mengganti surat itu dengan surat lain yang mirip dari sakunya.
2.      Ratu kemudian sadar bahwa surat di tangannya tadi telah hilang, dan dia langsung mencurigai Menteri. Begitu Menteri pergi, Ratu member titah kepada Kepala Polisi dan anak buahnya untuk menggeledah tempat Menteri. Kepala Polisi beserta anak buahnya dengan segala daya dan cara berusaha untuk menemukan surat itu, namun mereka tidk dapat menemukan apa-apa.
3.      Karena putus asa, Ratu minta tolong Dupir. Menurut kesimpulann Dupir, tidak mungkin surat itu disembunyikan, surat itu pasti akan ditemukan, maka pasti surat itu tidak disembunyikan. Akhirnya, memang dia menemukan surat itu. Lalu surat itu diletakkan sedemikian rupa sehingga nanti kalau dia kembali lagi ke rumah Menteri, dia akan mengganti surat itu dengan surat serupa.
4.      Dupin dating lagi, lalu mengganti surat itudengan surat palsu yang serupa. Oleh Dupin surat itu dikembalikan ke Ratu dan sadarlah Menteri bahwa dia akan segera jatuh
5.      Sebuah catatan dalam surat palsu tersebut menyetakan bahwa tindakan Dupin terhadap Menteri adalah sebuah balas dendam. Dulu, ketika Dupin dan Menteri masih sama-sama muda, mereka rebutan pacar, dan dengan akal bulus Menteri dapat mengalahkan Dupin.

Setelah menganalisis cerpen tersebut, Lancan membuat kesimpulan berikut ini.
-          Surat yang dicuri adalah kepanjangan tangan ketidaksadaran pikiran.
-          Penyelidikan Dupin adalah proses psikoanalisa
-          Surat yang sebenarnya tidak diketahui isinya adalah kepanjangn tangan hakikat bahasa.
Seorang pengikut Freud, Maria Bonaparte, juga pernah mengkaji cerpen ini dengan mempergunakan teori psikoanalisis Greud yang murni. Kesimpulan Maria “Surat yang Dicuri” adalah pencerminan gejala sakit jiwa dalam diri Edgar Allan Poe sendiri. Demikianlah, sbagai pengikut setia  Greud. Maria berusaha untuk masuk ke njiwa pengarang dank arena itu dia menemukan gejala tidak sehat dalam hubungan antara Edgar Allah Poe dengan ibunya.
Berbeda dengan Maria Bonaparte, Lancan tidak berusaha masuk ke dalam individu pengarang. Dia melihat teks sastra sebagai metaphor yang membuka kunci ketidaksadaran piukiran dan konteks psikoanalisa dan dalam aspek bahasa. Dengan menganggap teks sastra sebagai metaphor, dia dapat menemukan teori mirror stage  mengenai tahapan-tahapan dalam kehidupan menusia dalam kaitannya dengan bahasa.
Dalam mengikuti tahapan-tahapan ini, dia mengetahui adanya nucleus keberadaan kita dan intisari keberadaan kita. Sama halnya dengan Freud, Lancan juga mengikuti tripartite model, namun berbeda dengan tripartite model Freud. Dia melihat otak manusia menjalankan fungsinya melalui ke4rja tiga “orf=der” yang berbeda, yaitu, imajiner, simbolis, dan nyata/real.
Order imajiner berasal dari masa kanak-kanak, ketika seorang anak mash dapat menempelkan tubuhnya erat-erat ke tubuh ibunya dan merasakan kehangatqan tubuh ibunya. Pada saat inilah, fantasi dan imajinasi berkembang dengan baik. Studin sastra, menurut dia, tidak mungkin melepaskan diri dari order imajiner.
Sementara itu, order simbolis tidak lain adalah kawasan di mana bahasa berfungsi sebagai perwakilan pikiran dan objek. Dalam kawasan ini, manusia mengenal penggunaan simbol dan sistem simbol. Order simbol sebetulnya tidak jauh berbeda dengan pengertian Freud mengenai prinsip-prinsip realitas.
Order nyata adalah order di mana manusia berkenalan dengan pengalaman yang secara emosi sangat mendasar dan sangat kuat. Sebagaimana misalnya kemantian dan seksualitas. Pengalaman kematian dan seksualitas dan pengalaman lain yang mendasar merupakan kawasan yang aling dasar dalam kehdupan manusia. Kawasan ini pada dasarnya tidak dapat dicapai, dan hanya muncul dalam kesadaran pikiran da;lam waktu yang betul-betul singkat. Pada saat inilah, rasa senang dan rasa takut seolah kena terror mendatangi manusia.  


Tidak ada komentar: