Jumat, Oktober 10, 2014

Pengkajian Sastra dengan Pendekatan Religius

Pengkajian Sastra dengan Pendekatan Religius

Nilai religius adalah nilai yang berkaitan antara manusia dengan Tuhan seperti perasaan takut berdosa, dan mengakui kebesaran Tuhan. Nilai religius adalah sifat-sifat manusia atau tokoh cerita yang senantiasa berusaha mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Dengan demikian, firman Tuhan akan selalu terbayang pada tiap langkah, dan tiap nafas sang tokoh. Oleh karena itu, manusia yang religius adalah manusia yang pandangannya, sikapnya, dan perilakunya di dunia ini dinafasi oleh firman Tuhan.
Demikian halnya dengan Novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy sarat akan penggambaran nilai religius. Dalam novel Daun pun Berdzikir erat hubungannya dalam masyarakat yang dapat membangkitkan kekuatan batin dan spritual pembangunan iman. Apabila dihayati dan dikembangkan dapat menciptakan nilai-nilai positif yang sangat bermanfaat di kalangan masyarakat.
Novel tersebut, merupakan sebuah novel religius yang sangat inspiratif yang akan menuntun pembaca menemukan cinta berlandaskan kecintaan kepada Sang Maha Kuasa, karena hanya berbekal cinta kepada-Nya, hidup akan bahagia. Pembaca akan tetap teguh dan tegar menatap dunia dengan optimis walau cobaan terus menghantam.
Untuk memahami nilai reegius yang terdpat dalam Novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy, dapat dilihat uraian berikut.

 Kajian Nilai  Religius dalam Novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy

Dalam novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy ditemukan data inferensial yang mengidentifikasi nilai religius yang terdiri atas akidah, akhlak, dan ibadah. Deskripsi nilai religius dapat dilihat berikut ini.

1.      Akidah
Akidah adalah kepercayaan dan keyakinan terhadap Allah sebagai Ratib dan Ilah serta beriman dengan nama-namanya dan segala sifat-sifatnya. Pun beriman akan adanya malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari kiamat, dan beriman dengan takdir Allah (ada baik ada buruk) termasuk juga hal-hal yang datang dari Allah. Seterusnya patuh dan taat pada segala ajaran dan petunjuknya. Dengan begitu akidah Islam ialah keimanan dan keyakinan terhadap Allah dan Rasulnya serta apa yang dibawa oleh rasul yang dilaksanakan dalam kehidupan.
Berdasarkan  uraian tersebut, akidah dalam novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy dapat dirinci sebagai berikut.
                       
a.      Cinta kepada Allah


Kata cinta kepada Allah  mempunyai arti  merindukan Allah swt. Cinta kepada Allah dalam novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al-Azizy ditemukan pada berikut.

“Telah kudengar rahasia hatimu kepada Haydar dari orang-orang, bahwa kalian saling mencintai…, ya, saling mencintai. Tetapi, cinta kalian adalah cinta seorang sahabat terhadap sahabatnya kan? Cinta kalian adalah cinta sesama insan karena Tuhan Yang Maha Kuasa  (Halaman 205)

            Kalimat  tersebut menggambarkan perkataan Lidya kepada Shopy tentang cinta Shopy kepada Haydar. Cinta antara Shopy dan Haydar bukanlah cinta seperti cinta kebanyakan. Cinta keduanya adalah cinta persahabatan, cinta kepada Allah swt. Haydar mengetahui cara memperlakukan Shopy sebagai seorang wanita shaleha dan bukan muhrimnya, tetapi di antara keduanya tetap bersahabat dan menjaga persahabatannya. Haydar sangat cinta kepada Allah. Oleh karena itu, ia mengetahui batas-batas yang harus dijaga antara dirinya dengan Shopy meskipun orang lain mengatakan bahwa mereka saling menyayangi. Demikian pula Shopy yang dipenjara di rumah oleh ibunya karena dianggap jatuh cinta Allah. Dalam menghadapi cobaan ia tetap mencintai Allah, ia pun menghabiskan malamnya kepada Haydar.
Di samping itu,  memberikan gambaran bahwa  Shopy adalah wanita yang cinta kepada Allah. Dalam menghadapi cobaan ia tetap mencintai Allah,  ia pun (Shopy) menghabiskan malamnya dengan melaksanakan shalat tahajjud. Setiap masalah yang dihadapi  hanya berserah diri kepada Allah swt. Shopy berdoa di setiap sujudnya, tak henti-hentinya memohon  ampunan kepada Allah  atas apa yang telah terjadi dengan meneteskan air mata dan berdoa agar diberi kekuatan menghadapi segala tuduhan masyarakat, bahwa mencintai seorang pemuda miskin dan gila adalah perbuatan yang salah.
Demikian pula sosok Kiai Musthofa, melaksanakan semua perintah Allah dan memberi nasihat kepada Bram agar mencintai Allah seperti  berikut ini.
           

“Wahai, Sahabatku. Tak ada yang bisa menolong dan memberi kekuatan kepada kita, kecuali pertolongan dan kekuatan Allah. Tetapi, bilamana Allah kita jauhi, maka bagaimana Dia akan memberi pertolongan dan kekuatan kepadamu? Bagaimana cintamu bisa ditolong-Nya, sedangkan Dia sendiri tidak kau indahkan hak-hak-Nya? Aduh, celakalah jiwa yang berpaling dari-Nya. Tak ada keburukan yang lebih buruk lagi, kecuali tak mendapatkan cinta-Nya. Cintailah Allah agar Allah mencintaimu. Cintailah Allah agar Allah menolong cintamu dan mengobati kerinduanmu. Kembalilah kepada Allah, Sahabatku. Kembalilah. . . .” Bergetar Kiai Ali Musthofa mengiringi ucapan terakhirnya  (Halaman 318)

 Tersebut  menggambarkan kecintaan Kiai Musthofa kepada Allah swt dengan cara melaksanakan semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kiai Musthofa  menyampaikan pula hal ini kepada Bram. Allah akan mencintai ummatnya apabila ummat tersebut mencintai pula Tuhannya, dan memperbaiki diri di hadapan Allah, seperti  berikut ini.


“sudahlah sahabat yang sudah terjadi, biarlah terjadi. saatnya kita memperbaiki kembali diri kita dihadapan Allah Swt.” ( Halaman 355)

 Tersebut  menggambarkan keadaan Bram yang sudah sadar bahwa selama ini ia tidak mencintai Allah. Ia sadar bahwa yang dilakukannya selama ini sangat dibenci oleh Allah. Pemuda ini ingin mencintai Allah setelah mengalami hal-hal yang pahit dalam hidupnya, yakni cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Shopy menolak cintanya. Bram menjadi sadar bahwa penolakan cinta Shopy karena Bram tidak mencintai Allah. Bram melakukan hal-hal buruk dan jahat demi mendapatkan cinta Shopy. Kiai Musthofa mengingatkan dan memberi siraman rohani kepada Bram ketika kiai Musthofa melihat tanda-tanda Bram mencintai Allah dan siap untuk mengubah perilakunya, seperti   berikut ini.


“Kiai Ali menyadarkanku, siapa yang harus kucintai terlebih dahulu, sebelum mencintai semua orang, sebelum mencintai seorang gadis. Hatiku yang gersang selama ini, ternyata itu dikarenakan aku terlalu jauh dengan Tuhanku. Bahkan, aku menjauhinya. bahkan, aku membangkang. Sudah begitu, aku berusaha mencintai orang yang mencintainya.Oh, betapa tak tahu diri dan tak tahu malunya diriku.”  (Halaman 351

Cuplikan  tersebut menggambarkan sikap Bram yang telah menyadari kelakuannya selama ini dan bermaksud memperbaiki kesalahannya. Bram menyadari kesalahannya setelah dinasihati oleh Kiai Musthofa. Bram bertaubat dan mulai mencintai Allah swt.
Mencintai Allah seperti digambarkan dalam novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy dapat diterapkan dalam belajar di sekolah. Seorang siswa yang mengaku mencintai Allah senantiasa mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dalam lingkungan sekolah seorang siswa harus berperilaku yang terbaik misalnya menghormati guru dan tidak membeda-bedakan teman seperti dijelaskan dalam Al Qur’an Surah Ali Imran (3) ayat 31 yang terjemahannya berikut ini. 

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS, 3:21).

Akidah yang ditemukan dalam novel novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy bukan hanya cinta kepada Allah. Terdapat pula keyakinan atau kepercayaan kepada Allah seperti uraian berikut ini.

b.      Percaya kepada  Allah


Kata  Percaya kepada Allah  mempunyai arti mengakui atau yakin bahwa Allah itu ada. Percaya kepada Allah dalam novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al-Azizy ditemukan pada  berikut.


                       “Doakan aku agar bisa mendapatkan cinta dari gadis yang sepertimu.”
“Kuberdoa kepada Allah semoga Dia menghadirkan gadis itu segera di  hadapanmu.” (Halaman  66)


Pada kutipan tersebut menggambarkan kepercayaan Bu Salamah kepada Allah bahwa Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya. Bu Salamah percaya kebesaran sang Khalik. Tidak ada sesuatu yang sulit bagi Allah.
Demikian pula peristiwa yang dialami oleh Haydar. Setelah ayahnya meninggal Haydar menyesal dan suka menyendiri. Berdiam diri pada tempat-tempat yang sunyi, jauh dari rumah penduduk, dan tidak berbicara selama sebulan lamanya. Orang menganggapnya sudah gila.
Berbeda halnya dengan Bu Salamah. Wanita yang telah melahirkan Haydar ini yakin bahwa suatu saat Haydar akan berbicara kembali dan bertingkah laku seperti biasa. Dengan kepercayaan kepada Allah Bu Salamah tidak henti memohon pertolongan kepada Allah, seperti  berikut ini.


Sekian lama, Haydar dan ibunya saling diam. Mereka sibuk dengan hatinya sendiri-sendiri. Haydar sibuk mengenang ayahnya kembali, sedang Bu Salamah sibuk memikirkan Haydar. Tubuh anaknya itu semakin lama semakin kurus saja, bagai ranting kering yang akan patah. Haydar belum bisa melupakan ayahnya, sedangkan Bu Salamah terus memohon kepada Allah agar Dia berkenan mencabut penyesalan Haydar dari hatinya. (Halaman 71)

 Tersebut  menggambarkan kepercayaan Bu Salamah kepada Allah swt untuk mengembalikan perasaan dan perbuatan Haydar seperti semula sebelum ayahnya meninggal. Haydar sering menyendiri dan mendatangi kuburan ayahnya berlama-lama di sana bahkan sampai larut malam. Haydar berada di pusara ayahnya melantungkan kalimat-kalimat penyesalan. Ia menjadi pemuda yang tidak riang lagi, diam seribu bahasa selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Bu Salamah, ibu Haydar yakin dan percaya kepada Allah bahwa Allah akan mengembalikan keadaan Haydar menjadi pemuda yang rajin dan tidak berputus asa,  seperti   berikut ini.


Gemericik air sungai seumpama kidung puji-pujian dalam ungkapan yang amat sederhana kepada Tuhan. Airnya yang dingin dan bening seakan rindu agar semua orang di dukuh itu menggunakannya untuk berwudhu. Hati Haydar bersenandung, ”Cinta laksana air. Mengalir dari hulu menuju hilir. Asal cinta adalah Tuhan. Airnya membasahi jiwa-jiwa yang kehausan.

Jika hati percaya keberadaan cinta. Jiwa mesti percaya pada sumbernya. Sumber cinta tetap kan suci. Hingga airnya meresap ke sanubari. Kepada-Mu, duhai Yang Maha Suci. Segala sesuatu tunduk rebahkan diri. Inilah aku yang hendak memuja-Mu. Membasahi wajah, tangan, dan kaki, pasrah pada kehendak-Mu.” (Halaman 77)

Pada kalimat tersebut menggambarkan kepercayaan kepada Allah swt atas segala bumi dan isinya. Sang tokoh percaya bahwa Allah yang mengatur dunia ini. Oleh karena itu, manusia tunduk dan rebahkan diri mengikuti perintah Tuhannya (Allah).
Selain Bu Salamah, tokoh Asep percaya pula bahwa selama ini Allah telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan oleh manusia. Allah Maha Melihat segala sesuatu yang disembunyikan ummatnya. Kepercayaan kepada Allah swt tergambar pada  berikut ini.


"Oh, siapakah aku selama ini? Dalam kemiskinan, dia lantunkan puji dan puja. Dalam gelimang harta, bergelimang pula noda dan dosa.
"Hendak ke mana wajah ini kuhadapkan? Ketika di mana Tuhan sesungguhnya ada. Dia melihat apa yang kukerjakan. Dan, dia pun melihat apa yang hendak kulakukan."

Lalu, lama dia berdiam diri. Membiarkan air matanya membanjiri pipi. Sesal rasa menggores hati. Istighfar terlantun pelan, mengganti lisan yang suka memaki. Kidung kerinduan mulai terlantun. Tentang Dia Yang Maha Lembut dan Maha Santun. Asep rindu kepada Tuhan Ilahi Rabbi....( Halaman 114)

Pada  tersebut, tokoh Asep percaya kepada Allah bahwa Allah Maha Melihat atas hal yang dikerjakan manusia. Allah tidak pernah tidur, Allah melihat segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini.
Demikian pula tokoh Shopy yang sejak awal cerita digambarkan sebagai sosok wanita yang menyerahkan urusannya kepada Allah. Shopy yakin bahwa Allah melihat dan mengetahui rencana manusia baik yang belum dikerjakan, sementara dikerjakan atau baru akan dikerjakan seperti  berikut ini.


“Demi Dia yang selalu mengawasi kita, Demi Dia yang selalu mengetahui bersitan hati kita, aku selalu rindu untuk bersua denganmu. Aku rindu pada sungai yang airnya kita gunakan bersama. Aku rindu pada ladang, tempat kita bersenandung bersama. Aku rindu pada bebatuan dan pepohonan, yang dengan caranya sendiri mendengarkan pembicaraan kita. Aku rindu tanah perbukitan, yang kita injak bersama-sama. Aku rindu harum bebungaan yang bermekaran di halaman rumahmu. Setiap aku merindu, aku hanya bisa menangis, sebab aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mengingatmu, sesaat jiwaku terbang  melayang-layang. Lalu, aku tersadar, dan masuk kembali ke dalam perangkap yang dibuat orang tuaku. Apa engkau tidak merasakan semua ini?” (Halaman  176)

Pada data di atas digambarkan bahwa Allah bukan hanya melihat segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini, tetapi Allah mengetahui bersitan hati seseorang. Shopy percaya akan kekuasaan Allah. Oleh karena itu, ia percaya dan berharap bahwa Allah akan melepaskan penderitaannya kelak di kemudian hari, meskipun ia tidak dapat melawan kemauan orang tuanya seperti  berikut ini.


“Duhai Dzat yang membolak-balikkan hati. Kukuhkanlah hatiku atas agama-Mu dan atas ketaatan kepada-Mu….” Shofilah yang menjawab pertanyaan Asep. (Halaman  190-191)

Data tersebut memperjelas bahwa selain Allah mengetahui bersitan hati seseorang, Allah dapat pula membolak-balikkan hati seseorang sesuai kehendak-Nya. Shopy percaya akan hal ini. Oleh karena itu, Shopy menjelaskan kembali kepada Asep.
Dalam novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy terdapat tokoh yang digambarkan sebagai tokoh antagonis yakni Rohman. Rohman memerankan tokoh yang tidak shalat dan selalu berperilaku jahat. Namun demikian jauh di dalam lubuk hatinya selalu menyesal setelah berbuat jahat. Rohman percaya bahwa Allah pasti memberi balasan atas perbuatan manusia.

c.       Percaya janji Allah

Percaya janji Allah adalah mengakui atau yakin bahwa sesuatu yang telah dijanjikan oleh Allah pasti akan terkabul. Dalam novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy terdapat penggambaran aspek akidah yakni percaya janji Allah seperti  berikut ini.


Kami hanyalah orang kampung yang mencintai kampung kami, sedangkan engkau orang kota yang tentunya mencintai tempat tinggalmu. Kami dibesarkan di antara pohon-pohon, bebatuan, sungai, bukit, bunga-bunga, dan burung-burung. Langit yang menaungi kami adalah langit yang kami cintai. Tujuan kami mengenal perbedaan bukan untuk membesar-besarkan perbedaan itu. Kaya dan miskin di hadapan Allah adalah sama, sebab yang membedakan hanyalah takwa. Itulah hal yang selalu aku ingat dari ayah Haydar almarhum. Kami adalah murid-muridnya. Dan kami mencintainya.” (Halaman  63)

Kalimat tersebut, menggambarkan kepercayaan Haydar terhadap janji Allah bahwa kaya dan miskin adalah sama yang membedakan adalah takwanya. Sikap  seperti ini ditunjukkan pula pada  berikut ini.

 

 

“Kaya atau miskin, di hadapan Tuhan yang membedakan adalah takwa.”

“Akankah menunggu datangnya takwa pada diri Bram sehingga Shofi menerima cintanya?” (Halaman  228)

 

 

Kalimat tersebut, tokoh Shopy percaya akan janji Allah bahwa kaya dan miskin di hadapan Allah adalah sama, sebab yang membedakan hanyalah takwa. Lain halnya janji Allah terhadap orang yang telah berpulang ke rahmatullah. Bagi orang mukmin mati berarti istirahat dari beban dan siksa dunia. Adapun mati bagi orang jahat berarti diistirahatkan sebagai anggota masyarakat, sebagai hamba yang dapat menikmati daging hewan dan tumbuh-tumbuhan seperti dalam  berikut ini.



Abu Qatadah menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah Saw. Bersama para sahabat melihat rombongan orang yang membawa jenazah. Rasulullah kemudian berkata, “Orang yang beristirahat dan diistirahatkan.” Para sahabat kemudian bertanya, “Apa maksudnya ya, Rasulullah?” Kemudian, Rasulullah Saw. menjelaskan maksudnya bahwa bagi orang mukmin, mati berarti istirahat dari beban dan siksaan dunia dan beralih untuk menikmati rahmat Allah. Adapun mati bagi orang jahat berarti diistirahatkan dari sebagai anggota masyarakat, sebagai hamba yang dapat menikmati daging hewan dan tumbuh-tumbuhan.            (Halaman 282)

             Janji  Allah  bagi orang mukmin. Mati berarti istirahat dari beban dan siksaan dunia serta beralih untuk menikmati rahmat Allah. Adapun mati bagi orang jahat berarti diistirahatkan dari sebagai anggota masyarakat, sebagai hamba yang dapat menikmati daging hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Barang  siapa yang bersungguh-sungguh mengikuti jalan Allah, dia akan sampai kepada-Nya dan mengampuni orang, apabila seseorang menyadari dosa dan kesalahan yang telah dilakukan, lalu memohon ampun kepada-Nya dan bertaubat dari segala kesalahan, maka Allah  mengampuni dan menerima taubat mereka.
Penggambaran seperti contoh dalam novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy, dapat pula ditemukan di lingkungan sekolah. Seorang siswa yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu karena percaya janji Allah bahwa barang siapa yang menghendaki kebahagiaan di dunia hendaklah dengan ilmu. Sebaliknya seorang siswa tidak mau berbuat dosa di sekolah karena takut masuk neraka sesuai janji Allah  seperti dijelaskan terjemahan dalam Al Quran surah An Nahl (  16)  ayat 97 berikut ini.     

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS, 16:97).


d.      Percaya Ancaman Allah

Penggambaran aspek religius percaya ancaman Allah dapat dilihat pada  berikut ini.


“ Buanglah belenggu itu, lalu rasakanlah.”
“ Bagaimana aku bisa membuangnya?”
“Tuhan tidak membutuhkan ibadah kita. Kita mau mengingkari Dia atau menaati

Dia, Dia tetap Tuhan. Tidak seperti tukang kayu yang membelah-belah kayu karena dia membutuhkan kayu itu untuk menjadi bahan bakar, dinding rumah, kursi atau lemari. Bukan kayu yang membutuhkan tukangnya, tetapi tukang itulah yang membutuhkan kayunya. Maha Besar Allah yang telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk sujud kepada-Nya, bukan karena Dia membutuhkan sujud-sujud sang hamba, melainkan karena sang hambalah yang membutuhkan sujud di hadapan-Nya.” (Halaman  106)

Kutipan tersebut, menunjukkan bahwa manusia sebagai hamba Allah  berkeyakinan  akan adanya kehidupan lain setelah kehidupan di dunia, yaitu kehidupan di akhirat. Sebagai hamba yang bertakwa dan memegang teguh akidah Islamiyah, maka manusia percaya akan adanya ancaman Allah yakni surga dan neraka, yang dihuni oleh manusia sesuai dengan amal perbuatannya di dunia tanpa seorang pun yang bisa menolongnya.
Percaya dan yakin akan adanya surga dan neraka merupakan suatu hal yang sangat mendasar bagi setiap manusia karena menjadi kontrol dalam setiap langkah dan perbuatan di dunia.  Surga dan neraka menjadi pertimbangan dalam berbuat sesuatu hal yang diperintahkan oleh Allah swt., dan menjauhi segala hal yang menjadi larangannya seperti penjelasan terjemahan dalam Al Quran surah Al Jin (72) ayat 23 berikut ini.    
Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka Sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya (QS, 72:23).


Surah Al Jin di atas menjelaskan ancaman Allah terhadap umat yang durhaka kepada Allah dan Rasulnya. Mereka diberi ancaman yakni menjadi penghuni neraka jahannam selama-lamanya.

e.       Syirik

 

Kata syirik berarti  menyekutukan (menyerikatkan Allah). Perbuatan syirik digambarkan dalam novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy pada kutipan  berikut ini.

 

Namun, sepertinya pintu langit terus tertutup, hingga doa-doa yang dia panjatkan tidak terkabul. Muncullah niat tersebut. Rohman akan mencari seorang dukun yang sanggup membuat hati seorang gadis takluk kepada seorang laki-laki. Dukun, atau kiai, atau paranormal yang sakti, akan dia cari demi bisa menautkan cinta Bram di dalam hati Shofi! (Halaman  230)

 

 Tersebut  menggambarkan sifat Rohman yang akan mencari dukun atau paranormal untuk mengetahui mengapa Shopy tidak dapat mencintai Bram. Dalam pemahaman Rohman harusnya Shopy mencintai Bram, karena Bram pemuda yang pandai, tampan, dan kaya yang pada saat ini mengadakan penelitian  di desa Gagatan. Rohman tidak dapat memahami pemikiran Shopy sehingga Shopy menolak cinta Bram. Oleh karena itu, Rohman menjadi syirik. Ia percaya bahwa ada seseorang yang dapat melihat kejadian yang lalu dan yang akan datang. Ia menduakan Tuhan dengan cara pergi ke dukun yang jahat untuk melihat gambaran alasan Shopy menolak cinta Bram seperti berikut ini.

 

 

“Gimana pendapat lo, Na?”

“Itu tidak adil bagi Shofi, Man.”

“Tetapi sikap Shofi tidak adil kepada Bram, Na.”

“Itu memaksakan cinta namanya.”

“Bukan memaksa, tetapi mendekatkan hati Shofi kepada Bram.”

“Kalau keinginanmu seperti itu, lebih baik engkau berdoa kepada Tuhan untuk mendekatkan hatinya. . . .”

“Justru karena Tuhan menolak doa-doaku, maka kuniatkan untuk menggunakan cara seperti ini.”

“Tetapi, aku tak setuju.” (Halaman 230)

 

            Kutipan tersebut, menggambarkan keyakinan Rohman yang menduakan Tuhan. Lain halnya dengan Nana. Nana beranggapan bahwa sepandai apa pun manusia tidak akan bisa mengalahkan kepandaian Tuhan yang menciptakannya. Kemampuan dan kepandaian manusia sangatlah terbatas, sedangkan kepandaian Allah maha luas meliputi seluruh alam jagad raya. Oleh karena itu,  kepandaian manusia itu kecil dan jauh di bawah kepandaian Allah swt sebagai sang pencipta. Berbeda dengan kepercayaan Rohman dan Karyo. Kepercayaan Rohman dan Karyo tergambar seperti  berikut ini.

 

 

Rohman menegakkan punggungnya dan menjadi tertarik mendengar perkataan Karyo.

“Aku dengar, dia pandai mengirim teluh. Dia memiliki ilmu pengasihan. Ilmu santet. Ilmu gendam. Pokoknya, dia top banget deh,” ucap Karyo menirukan dialek Rohman yang sering didengarnya.

          “Ayo kita ke sana. Di mana rumahnya?”

          “Kita harus ke dukuh sana.” Karyo menunjuk arah di kejauhan. “Rumahnya persis di kaki bukit itu.”   “Kita ke sana sekarang.” “Tapi, nanti kita kemalaman?” Apa kau takut?”

        “Tidak takut sih, tapi....” “Kubayar kau dua kali lipat!”  “Oke!” Akhirnya, mereka pun segera berangkat ke rumah Mbah Berah (hlm, 237-238).

 

 

Data tersebut menunjukkan pendirian dan keinginan setiap manusia terkadang berubah-ubah. Semua itu bergantung  dari niat seseorang, sehingga dalam memperjuangkan sesuatu haruslah selalu berhati-hati dan waspada terhadap godaan setan yang selalu menyesatkan. Setan akan menyesatkan setiap insan yang mempunyai niat buruk, sehingga seseorang akan terjerumus ke dalam kepercayaan selain Allah.
Keadaan  dukun yang dianggap sakti oleh Rohman dan Nana serta Karyo. Mereka percaya kepada dukun. Mereka menduakan Allah dengan datang dan percaya kepada tindakan dukun tersebut. Mereka percaya adanya Allah tetapi dalam perbuatannya ternyata menduakan Allah. Hal ini bertentangan dengan ajaran Agama Islam sebagaimana dijelaskan dalam terjemahan surah An Nisaa’ (4) ayat 48 berikut ini. 

 

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar (QS, 4:48).

 

 

f.       Percaya Takdir baik/buruk


       Dalam novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy terdapat penggambaran nilai religus pada aspek akidah yakni percaya takdir baik dan buruk. Percaya takdir baik dan buruk tergambar uraian  berikut ini.
           

Masih kudengar isak tangismu di atas sajadah malam itu. Kala kudengar engkau berseru lirih, “Duh, Gusti, dengan kemurahan-Mu. Duhai yang  Paling Pengasih di antara pengasih! Dalam kekurangan ini, mungkin memang lebih baik bagi kami agar selalu ingat akan diri-Mu….’’ (Halaman 13)

Demikian pula dengan siswa di sekolah. Siswa harus percaya takdir baik dan takdir buruk. Salah satu contoh siswa yang percaya takdir buruk seperti adanya siswa yang pintar dalam semua mata pelajaran tetapi ikhlas menerima nilai yang tidak diharapkan (nilai rendah/ tidak sesuai keinginannya) disebabkan oleh faktor pada dirinya yang selalu sakit jika ulangan berlangsung sehingga tidak mengikuti ulangan. Ada juga siswa yang ketika ujian terserang penyakit sakit kepala  atau demam sehingga tidak dapat memaksimalkan jawabannya. Akibatnya nilai yang diperoleh kurang. Percaya takdir baik dan buruk dijelaskan dalam  terjemahan Al Quran surah Al Insaan (76) ayat 30  berikut ini.  
dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS, 76:30).


2.      Akhlak

Akhlak merupakan perbuatan yang tertanam dalam jiwa seseorang yang menjadi ciri kepribadiannya. Semua tampak dalam sikap dan tingkah laku yang baik atau buruk. Adapun nilai akhlak yang terdapat dalam novel Daun pun Berdzikir  Taufiqurrahman Al Azizy sebagai berikut.
a.      Sabar

            Kata sabar  berarti  tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa,  tidak lekas patah hati). Akhlak sabar dalam novel Daun pun Berdzikir  karya Taufiqurrahman Al Azizy ditemukan pada kutipan  berikut.
           
Bila malam ini menetes kembali air mataku, karena teringat kala engkau ajari aku cara memaafkan sebelum diminta, bersabar atas derita, bersyukur dalam kekurangan, dan berharap dalam kepapaan.


Jikalau aku berusaha tegar saat ini, itu karena aku melihatmu lebih tegar dari siapa pun. Jikalau aku berusaha tetap sabar menghadapi hidup ini, itu karena kutemukan lagi orang yang lebih sabar dibandingkan engkau. Dan jikalau aku rindu kepadamu malam ini, itu karena engkau pernah menangis  di akhir khayatmu demi bisa bersua denganku sedangkan Allah tidak memberi kita waktu saat itu. Engkau menghadap-Nya di saat aku jauh dari sisimu.

Uraian tersebut  menggambarkan tentang kesabaran. Manusia disuruh  bersabar. Sabar menjadikan seseorang terhindar dari marah. Marah adalah perbuatan setan yang membuat seseorang emosional.
Demikian pula di sekolah. Tata Usaha, guru, serta siswa harus memiliki kesabaran. Guru harus bersabar menghadapi segala tingkah laku siswa yang berbeda-beda. Siswa harus bersabar menghadapi segala tugas yang diberikan oleh guru. Hal ini dijelaskan dalam terjemahan Al- Quran surah Ali Imran (3)  ayat 200 berikut ini.

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung (QS, 3:200).


b.      Berkata Benar dan Bersikap Jujur

Seseorang dikatakan berkata benar dan bersikap jujur jika yang diucapkan dan dilakukannya sesuai dengan kenyataan  yang sebenarnya. Akhlak berkata benar dan bersikap jujur dalam novel Daun pun Berdzikir ditemukan uraian berikut.



“ Namamu menjadi buruk menurut mereka.”
“ Tetapi, alangkah menyedihkan jika nama kita menjadi buruk di hadapan Tuhan kita, Sahabatku,” jawab Haydar.
“ Apakah kau memang mencintai Shofi?”
“ Aku berjanji kepada ibuku untuk tidak mencintai gadis itu.” (Halaman 104)


“Aku sempat berbincang-bincang lama dengannya. Setiap ucapan yang keluar dari bibirnya, begitu halus, begitu mendalam. Ternyata, dia tidak seperti yang dianggap banyak orang selama ini,” aku Lidya.
“Aku bertanya pada jiwaku, bagaimana bisa pemuda yang tidak punya seperti dia bisa menjadi seperti itu? Dosa-dosa yang telah kulakukan selama ini menutup pintu hatiku untuk merasa betapa Tuhan sangat adil dan bijaksana. Oh, Lidya. . . lihatlah orang-orang di sekitar kita ketika kita hidup di kota. Dalam kemiskinan, mereka menjerit, meronta-ronta, meminta-minta, dan menjauhkan diri dari Tuhan. Tetapi Haydar? Orang-orang menganggapnya tidak waras. Dia balas anggapan itu dengan seulas senyum. Dia pasrahkan dirinya di hadapan Tuhannya. Bahkan, dia doakan orang-orang untuk kebaikannya. Jiwaku tertampar. Batinku menjerit. Aku berlari. Dan, aku terus berlari. Hampir saja aku jatuh ke jurang. Suatu suara mengajakku berbicara. Aku tercekat. Keringat dingin membanjiri tubuhku. Sebuah layar seakan terbentang di hadapanku, dan di sana aku melihat diriku sendiri dengan dosa-dosaku. Adakah aku telah bertaubat, Lidya? Bisakah orang buruk sepertiku kembali kepada Tuhanku?”( Halaman  129)

Kutipan  tersebut, menggambarkan perkataan yang benar dan sikap yang jujur ketika berkomunikasi dengan sesama. Demikian pula pada proses belajar mengajar. Guru harus berkata atau bersikap jujur jika menginginkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik pada diri siswa. Sama halnya siswa dengan siswa lain harus berkomunikasi dengan perkataan yang benar dan sikap yang jujur sebagaimana terjemahan dalam Al Quran surah Al Ahzab  (33) ayat 70 berikut ini.

 

 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar (QS, 33:70).

 

 

c.       Tolong- menolong

            Kata tolong menolong berarti saling membantu.   Akhlak tolong menolong dalam novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy ditemukan pada kutipan berikut.

“Sebenarnya, ayahmu sakit apa, Nayla?”
“Itu dia yang aku tidak jelas. Katanya, ayah hanya kelelahan saja. Tetapi….”
“Kalau memang harus dirujuk ke rumah sakit, ayahmu memang harus segera dibawa ke sana.”
“Inginnya seperti itu, tetapi… tak ada biaya….”
“Gunakan uangku, Nayla. Belum aku gunakan sama sekali. Mungkin tidak cukup, tetapi setidaknya bisa meringankan beban biaya.”
“Tetapi itu uangmu, hasil jerih payahmu….”
“Tidak apa-apa. Semoga Allah segera memberi kesembuhan kepada beliau.”
“Amin.”
Allahumma amin.”
“Haydar….” Nayla tidak melanjutkan perkataannya.
“iya?”
“Apa…, apa kamu sudah… mendengar perkunjingan ini…?”
Masya Allah, pergunjingan apa lagi Nayla?”
Nayla menghela napas sebelum ia menjawab, “Tentang kau dan Shofi.”
“Kita diajari untuk tidak menggunjing. Kita diajari pula untuk tidak mendengarkan pergunjingan. Apa kamu lupa?” (Halaman 258)

Kutipan  tersebut menunjukkan kemurahan hati Haydar dalam menolong sesama dengan memberi uang simpanannya kepada Nayla untuk dijadikan biaya berobat ayah Nayla yang sakit. Biaya untuk berobat ayah Nayla sangat susah dan serba kekurangan, sementara keadaan ayah Nayla sudah memprihatinkan.
Haydar ikhlas menolong Nayla demi kesembuhan ayah Nayla. Uang yang diberikan Haydar adalah gaji yang diperoleh Haydar  ketika menggali beberapa sumur di kampungnya. Bukan hanya gajinya yang ia berikan kepada Nayla untuk menolong ayahnya, tetapi kalung pemberian ayah Haydar kepada Bu Salamah Ibu Haydar juga dijual untuk menyelamatkan nyawa  ayah Nayla.
.
Kutipan  tersebut menggambarkan tentang akhlak tolong menolong yang dapat dijadikan contoh pembelajaran di sekolah. Siswa diharapkan menerapkan  akhlak tolong menolong dengan siswa lain tanpa membedakan status dan golongan (misalnya tolong menolong memecahkan  atau menjawab soal yang sulit, berdiskusi di luar jam pelajaran, meminjam buku catatan teman, meminjamkan pulpen ke teman)  sebagaimana terjemahan dalam Al Quran  surah Maa-idah (5)  ayat  2 berikut ini.     

dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya (QS, 5:2).


3.      Ibadah
Pengertian ibadah dapat ditemukan melalui pemahaman bahwa kesadaran beragama pada manusia membawa konsekuensi manusia itu melakukan penghambaan kepada Tuhannya. Dalam ajaran Islam, manusia itu diciptakan untuk menghamba kepada Allah, atau dengan kata lain beribadah kepada Allah. Manusia yang menjalani hidup beribadah kepada Allah itu tiada lain manusia yang berada pada shiraathal mustaqiem atau jalan yang lurus. Manusia yang berpegang teguh kepada apa yang diwahyukan Allah, maka ia berada pada jalan yang lurus. Dengan demikian segala sesuatu yang disebut dengan manusia hidup beribadah kepada Allah itu ialah manusia yang dalam menjalani hidupnya selalu berpegang teguh kepada Allah.
Ibadah merupakan perendahan diri kepada Allah swt dengan cara melaksanakan dan menjauhi segala larangannya, dan mengimplementasikan dalam bentuk ibadah kepada Allah swt. Terdapat nilai ibadah pada novel Daun Pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al-Azizy.  Adapun nilai ibadah  pada novel Daun Pun Berdzikir  sebagai berikut:

a.      Mendirikan Shalat

Dalam ajaran Islam, orang tua wajib mendidik, mengarahkan dan memperhatikan anak-anaknya secara sempurna dengan memberikan ajaran-ajaran yang baik agar si anak menjadi orang yang berakhlak mulia dan jauh dari tingkah laku yang menyesatkan, serta melaksanakan perintah agamanya dengan sebaik-baiknya, seperti tercermin berikut ini.

Bilamana ada waktu yang paling aku ingat, itu adalah saat di mana engkau ajak aku ke ladang kita. Kau ajari aku mengayunkan cangkul, membelah tanah, berbelah- belah. Peluh keringatmu yang menempel di kening itu kau usap dengan punggung telapak tangan kananmu. Lalu, ketika adzan dzuhur berkumandang dari arah masjid Dukuh kita, kau ajak aku berhenti. Menghela napas. Lalu, berkecipak air di dekat ladang kita. Membersihkan diri. Dan berwudhu. Engkau keluarkan dua kain sarung yang tidak aku mengerti telah kau bawa sebelumnya. Di atas hamparan rumput yang hijau itu, kita bersujud kepada Tuhan. Kita pasrahkan diri. Kau ajari aku cara mempersembahkan cinta kepada-Nya. Setiap kali adzan dzuhur kudengar di ladang itu, kurebahkan diriku di hadapan-Nya, bersujud di atas rumput tempat kita bersujud berdua….(Halaman  15-16).
Tersebut  menunjukkan bahwa kedua orang tua  Haydar memiliki akidah atau keimanan yang sangat kuat, teguh, dan kokoh. Mereka memiliki prinsip dan sikap hidup, yaitu tasbih dan mukena, sepanjang hidup mereka yang dilakukan hanyalah beribadah, bahkan mereka  lebih senang dan merasakan kenikmatan melihat orang-orang yang sedang beribadah
Gambaran peristiwa seperti tersebut,  dapat dijadikan pelajaran  bagi siswa akan perlunya shalat lima waktu agar  mempunyai iman yang kuat menghadapi masalah hidup. Shalat lima waktu mengajarkan kepada siswa untuk disiplin dan mengatur waktu sebaik mungkin. Demikian pula di sekolah diharapkan siswa disiplin dan menaati peraturan sekolah. Kewajiban mendirikan shalat dijelaskan pada surah Al Ankabut (29)  ayat  45 berikut terjemahannya.

Bacalah  apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS, 29:45).


b.      Membaca Al Quran  (Mengaji)


ini. Dalam novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy mengandung aspek ibadah yakni suka membaca Al Quran (mengaji). Penggambaran aspek ini terdapat pada kutipan  berikut.

Ketika dia melihat pembantunya sedang membaca ayat-ayat al-Qur'an usai bersembahyang Ashar, dia teriaki pembantunya itu, dia perintahkan untuk segera meninggalkan mukena dan kitab suci yang dibacanya itu. "Kau dibayar di rumah ini bukan untuk shalat dan mengaji. Buang Qur'anmu dan cepat beresin pot bunga itu!” bentaknya. ( Halaman 113)

Kutipan tersebut, menunjukkan ajaran orang tua Bram yang tidak bertanggungjawab dengan tidak mengarahkan dan tidak mendidik anaknya dengan ajaran-ajaran yang baik seperti tidak pernah manasihati anaknya agar tidak  nakal dan rajin mengaji. Hal ini juga menunjukkan bahwa ayah Bram tidak menyangangi anaknya. Oleh karena itu jadilah Bram seperti data di atas. Bram menjadi anak yang jauh dari agamanya. Bram menjadi anak yang berdosa, tidak suka melihat pembantunya shalat, mengaji, dan memegang Al-Qur’an.
Lain halnya dengan orang tua Haydar yang menjadi guru mengaji di kampungnya. Walaupun hidupnya miskin, tetapi ayah Haydar sangat dihormati oleh warganya sebagai seorang guru mengaji. Suami Bu Salamah ini tidak hanya mengajari anak-anak mengaji, tetapi remaja dan orang tua pun berguru kepadanya. Warga desa mendengar petuah atau nasihat dari suami Bu Salamah ini.
Setelah ayah Haydar berpulang ke rahmatullah, tidak ada lagi suara mengaji terdengar di desa. Desa menjadi sunyi dan Haydar seta Bu Salamah menjadi bahan ejekan warga kampung seperti  berikut ini.


Sudah tak terdengar suara celoteh anak yang biasanya bermain-main di halaman rumah. Sudah tak terdengar pula suara orang mengaji, entah dari mesjid atau dari surau. Malam tampak begitu mencekam seakan-akan telah mempersiapkan diri menyambut kedatangan kekasih Tuhan untuk di kubur di rahim pendukuhan. (Halaman  284)

Uraian tersebut, menunjukkan sikap ayah Haydar semasa hidupnya yang bertanggungjawab dengan mengarahkan dan mendidik anaknya dengan ajaran-ajaran yang baik seperti mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Sepeninggal beliau kampung menjadi sunyi  dan tidak terdengar lagi suara orang mengaji.
Dalam Islam dianjurkan kepda umat Islam untuk membaca, memahami, dan mengmalkan Al Quran. Hal ini mempunyai dampak positif terhadap siswa untuk rajin membaca ilmu pengetahuan sebagaimana dijelaskan pada surah Al Israa’ (17) ayat 9 berikut ini.

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (QS, 17:9).






c.       Berdoa

Kata doa  berarti permohonan  (harapan, permintaan, pujian) kepada Allah. Aspek religius berdoa dalam novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy dapat ditemukan pada beberapa data. Data-data tersebut sebagai berikut.


Aku lihat engkau dan ibumu selalu pergi ke sungai ini, mengambil air wudhu, dan tentu saja, engkau kerjakan shalat tahajjud di rumahmu. Jika aku menggigil karena aku cemburu kepadamu. Juga kepada ibumu. Aku selalu berdoa kepada Tuhan, ’Ya Allah, jadikan hamba ini orang yang bersabar atas ujian-Mu, dan bersyukur atas karunia-Mu. Jadikan hati hamba sebagaimana hati orang-orang yang menghuni rumah itu.’ Tak lupa aku berdoa tentang orang-orang di sekitar kita, ’limpahkanlah hidayah dan taufiq kepada mereka, agar hati mereka terbuka untuk mengatakan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah keliru.’ Tuhanmu bukan hanya Dia yang kau cintai di mana puja puji, dzikir, ibadah, cinta, dan kerinduan engkau persembahkan ke hadirat-Nya,dan mendambakan cinta-Nya....”
“Maha Suci Allah, Maha Besar Allah yang telah menghadiahkan engkau sebagai sahabatku, Nayla. Di saat kau bahagia, kau bagi kebahagiaanmu kepadaku. Dan di saat hati ini berduka, kau ikut menanggung kesedihan yang kurasakan. Semoga Allah membalas kebaikanmu dan melimpahkan kebaikan yang berlipat-lipat kepadamu.”
“Amin, ya Rabbi. Oh iya, Haydar. Ayah memintaku untuk menyampaikan kepadamu. Jika kau tak berkeberatan, ayah memintamu untuk mengerjakan ladang besok.”
Insya Allah, Nayla.”
Bu Salamah mendekat. Kepada putranya dan Nayla, dia berkata, “Tak baik berlama-lama di sungai ini. Azan subuh akan segera terdengar. Mari kita pulang, Nak. Ayo Nayla.” (Halaman  79-80)



Di atas sajadah panjangnya, Shofi merebahkan diri.
Dia pasrahkan jiwa kepada-Nya dengan sepasrah-pasrahnya. Dia akui dosa, kesalahan, dan kealpaan di hadapan Tuhan. Dia adukan ketakberdayaan diri di kebesaran Tuhan....
“Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Kasih dan Maha Sayang Ya, Allah. Aku bermohon kepada-Mu, hendaklah Kau jaga aku sehingga aku tidak lagi menentang-Mu. Sungguh, aku bingung dan ketakutan karena banyaknya dosa dan kemaksiatan bersamaan dengan banyaknya anugerah-Mu dan kebaikan-Mu. Lidahku telah kelu karena banyaknya dosa-dosaku.
“Telah hilang wibawa wajahku, maka dengan wajah yang mana aku harus menemui-Mu setelah dosa-dosa membuat wajahku muram? Dengan lidah yang mana aku harus menyeru-Mu, setelah maksiat membuatku bungkam?
”Ya, Allah. Bagaimana aku menyeru-Mu padahal aku pendosa? Tetapi, bagaimana aku tidak menyeru-Mu, padahal Engkau Maha Pemberi Karunia? Bagaimana aku bergembira, padahal aku pendosa? Tetapi bagaimana aku berduka, padahal Engkau Maha Pemberi Karunia?
“Ya, Allah, bagaimana aku menyeru-Mu padahal aku adalah aku? Tetapi, bagaimana aku tidak menyeru-Mu, padahal  Engkau adalah Engkau? Bagaimana aku bergembira, padahal aku telah melawan-Mu? Tetapi, bagaimana aku berduka, padahal aku telah mengenal-mu?
“Wahai Dzat Yang Maha Kasih. Duhai Zat Yang Maha Sayang....” (Halaman  82-84)



Dari sisi kiri ladang, mereka datang mendekati Haydar. Setelah dekat, mereka melihat Haydar tengah bersujud seraya mengucapkan doa, “ Ya, Allah..., sampaikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad. Karuniakan kepada kami kemudahan untuk taat, kekuatan untuk menjauhi maksiat, ketulusan di dalam niat dan pengetahuan tentang hormat.
“ Ya, Allah..., muliakan kami dengan hidayah dan istiqamah. Luruskan lidah kami dengan kebenaran dan hikmah. Penuhi hati kami dengan ilmu dan makfiat. Bersihkanlah perut kami dari haram dan subhat. Tahan tangan kami dari kezaliman dan pencurian. Tundukkan pandangan kami dari kemaksiatan dan pengkhianatan. Palingkan pendengaran kami dari ucapan yang sia-sia dan umpatan.
“ Karuniakanlah kepada ulama kezuhudan dan nasihat. Kepada para pelajar kesungguhan dan semangat. Kepada para pendengar kepatuhan dan kesadaran. Kepada yang sakit kesembuhan dan ketenangan. Kepada yang meninggal kasih sayang dan rahmat.
 Kepada orang tua kami kehormatan dan ketentraman. Kepada pemuda kami kembali pada jalan taubat. Kepada para wanita rasa malu dan kesucian.
“Kepada orang-orang kaya rendah hati dan kemurahan. Kepada orang-orang miskin kesabaran dan kecukupan. Kepada para pejuang pertolongan dan kemenangan. Kepada para tawanan kebebasan dan ketenangan. Kepada para pemimpin keadilan dan kasih sayang
“ Ya, Allah. Ya, Rahman. Ya, Rahim. Kepada-mu daku serahkan urusan. Di hadapan kemuliaan-Mu daku panjatkan permohonan.” (Halaman  99-100)

          Kutipan  di atas menunjukkan ketaatan Haydar dalam beribadah. Dengan kekhusukannya, ia sampai menangis memohon kepada Allah agar dijauhkan dari perbuatan-perbuatan yang sesat, dan memohon agar kiranya  teman-temannya diberi hidayah oleh Allah untuk kembali ke jalan yang benar. Haydar mendoakan agar mereka yang telah menyakitinya menyadari diri dan mengingat Tuhannya. Haydar tidak menyimpan dendam atas perlakuan masyarakat yang telah menganggapnya gila. Ia berdoa semoga orang-orang yang telah melakukan kesalahan ditunjukkan jalan kebenaran. Haydar mendoakan pula agar orang-orang yang tersesat kembali ke jalan Allah dan mengingat semua dosa yang telah diperbuat. Haydar mendoakan semua warga dan juga mahasiswa yang telah melakukan penelitian di desanya, termasuk pula mendoakan Asep. Asep menjadi salah tingkah dan merasa bersalah telah memusuhi Haydar yang sangat baik.
Mendengar doa yang dipanjatkan Haydar, Asep tersadar dari perbuatannya selama ini yang selalu jahat terhadap Haydar. Semua itu dilakukan demi sahabatnya Bram. Akhirnya kebenaran mengungkap segalanya. Haydar tidak bersalah dan tidak pula gila seperti yang dituduhkan Bram dan masyarakat. Sebaliknya Haydar adalah hamba Allah yang selalu mendoakan warga desa untuk dijauhkan dari musibah, dan bencana. Demikian pula Asep. Haydar mendoakan Asep agar Allah memberi cahaya dan jalan kepada Asep untuk kembali berbuat baik. Hal ini di dengar oleh Asep. Asep malu pada dirinya dan berlari entah ke mana
Ibadah  bukan hanya melakukan shalat, tetapi juga berdoa. Berdoa harus senantiasa dalam keadaan khusuk. Pada data di atas Nayla adalah seorang gadis yang taat beribadah termasuk berdoa. Di setiap akhir shalatnya ia berdoa. Terkadang ia mendoakan sahabatnya Haydar untuk bertemu dengan Shopy. Seorang wanita yang cocok mendampingi Haydar dalam hidup ini.
Aspek religius berdoa mengajarkan kepada siswa untuk tidak merasa sombong atas kesuksesan usaha yang telah dilakukan. Jadi, walaupun siswa telah berprestasi dan mendapatkan beberapa penghargaan, siswa tetap mengingat bahwa Allah yang telah mengabulkan doanya menjadi berprestasi. Anjuran berdoa dapat dijelaskan dalam Al Quran  surah Al Mukmin (40)  ayat 60 berikut terjemahan.
dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina.

d.      Bersedekah

Kata sedekah berarti  Pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya. Aspek religius bersedekah dalam novel Daun pun Berdzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy dapat dilihat kutipan  berikut ini.

           
Tak jarang Pak Usman membagi-bagikan uang kepada tetangga-tetangganya. Anak-anak kecil yang bermain di halaman rumah akan diundangnya satu per satu, lalu mereka akan pulang dengan menggenggam uang sepuluh ribu. Mesjid kampung yang berdiri kukuh di seberang jalan sana, tak luput sebagiannya merupakan sumbangan daru Pak Usman.         ( Halaman  31)

 

 

Sang kiyai hanya tersenyum, seraya berkata, “Sedekahkan uang itu untuk mengharap ridha Allah demi kebaikan sahabatmu, Bram.”                 ( Halaman 236)

 

 

 

Setelah menghela nafas, Nana menjawab, “Pasti ada maksudnya bila Kiai Ali berkata seperti itu. Dia meminta kita untuk menyedekahkan uang tersebut. Lebih baik kita kerjakan apa yang beliau minta. Demi kebaikan Bram, katanya.”( Halaman 237)

 

            Kutipan tersebut, mengajarkan kepada siswa untuk berbagi seperti menyumbang kepada siswa yang kurang mampu, menjenguk teman yang sakit, atau memberikan sumbangan kepada keluarga teman yang mendapat musibah. Penggambaran bersedekah terdapat dalam Al Quran  surah Al Baqarah (2) ayat  3,  berikut terjemahannya.

 (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

 

 Menafkahkan sebagian rezki, ialah memberikan sebagian dari harta yang telah direzkikan oleh Tuhan kepada orang-orang yang disyari'atkan oleh agama memberinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain.


Sastra merupakan bagian dari karya seni. Keduanya  merupakan unsur integral dari kebudayaan, dan usianya sudah sangat tua. Kehadiran kedua unsur tersebut hampir bersamaan  dengan kehadiran  manusia di muka bumi ini, karena karya sastra  diciptakan dan dinikmati oleh manusia. Sastra telah menjadi bagian dari pengalaman hidup manusia dari segi  aspek penciptaannya yang mengekspresikan pengalaman batinnya ke dalam karya sastra.


Tidak ada komentar: