Jumat, Oktober 10, 2014

Pengkajian Fiksi Berdasarkan Unsur Ekspresi dan Persuasi

 Pengkajian Fiksi Berdasarkan Unsur Ekspresi dan Persuasi

Luxemburg, dkk., (1991:54-55) mengemukakan, bahwa teks disebut ekspresif bila tujuannya untuk mengungkapkan buah pikiran, perasaan, pengalaman, dan pendapat pengarang. Teks ekspresif juga memberi informasi tentang dunia nyata dan juga ditujukan kepada pembaca, namun fungsi utamanya adalah penyajian diri si pengarang. Sedangkan teks referensial adalah teks yang tujuannya merujuk kepada dunia nyata. Teks referensial dimaksudkan untuk memberi informasi tentang apa yang terjadi di dunia nyata atau bagaimana keadaannya. Masih menurut Luxemburg, dkk., bila dunia nyata kita (pembaca) dapat ditemukan dalam dunia novel, maka kita (pembaca) akan tertarik untuk membacanya.
Teks persuasif di lain pihak terutama mementingkan penerima, pembaca, atau dalam hal komunikasi lisan, pendengar. Usahanya ialah memengaruhi, meyakinkan atau  mendorong perilaku tertentu. Pengarang menggunakan teknik tertentu untuk mencekam pembaca (dengan ketegangan), mengharukan, menyenangkan, atau mengajarinya (Luxemburg, dkk., 1991:56). Selanjutnya teks retorik adalah teks yang tidak mengutamakan hubungan antara teks dengan faktor-faktor konteks yaitu pengarang, dunia nyata dan pembaca, melainkan mengutamakan teks itu sendiri, bagaimana rancang bangunnya dan bagaimana ungkapan bahasanya.
Untuk menentukan apakah sebuah teks sastra termasuk atau dikelompokkan ke jenis teks yang mana, sangatlah sulit dan subjektif.  Oleh karena itu, Luxemburg, dkk., (1991) menjelaskan,  jika pengelompokan ini digunakan, tidak ada kelompok teks sastra. Berdasarkan sifat sebuah teks dan juga konsep sastra yang berlaku pada periode tertentu atau pada kelompok tertentu, tekanan diberikan pada segi teks yang referensial, ekspresif, atau lain-lainnya.
kendatipun demikian, sebuah teks sastra tidak mungkin lahir tanpa ada apa-apanya. Sebuah cerpen misalnya adalah hasil ekspresi penulis tentang apa yang ia lihat, alami, dan yang ia rasakan sehingga penulis harus memberikan pendapatnya tentang hal itu. Dapat juga pengalamannya tentang cinta, kesedihan, ketidakadilan, kebencian, atau kekerasan itu ia sampaikan kepada pembaca dengan memberikan ketegangan, mengharukan, menyenangkan, atau bahkan mengajari pembaca tentang sebuah moralitas.
Wellek dan Warren (1995:15) mengatakan, bahwa bahasa sastra memunyai fungsi ekspresif, menunjuk pada nada (tone) dan sikap pembicara atau penulisnya. Bahasa sastra berusaha memengaruhi, membujuk dan pada akhirnya mengubah sikap pembaca. Dengan demikian penulis harus mampu memengaruhi dan meyakinkan pembaca agar pembaca didorong untuk melakukan apa yang penulis inginkan dalam karyanya. Hal ini berkaitan erat dengan intention yang ingin disampaikan penulis terhadap sense yang diusungnya.
       Berdasarkan uraian tersebut, berikut kajian Vional Sapulette berkaitan unsur ekspresi dan persuasi dalam cerpen Usaha Beras Jrangking karya Prasetyahadi

 Kajian Unsur ekspresi dan persuasi dalam cerpen Usaha Beras Jrangking
 karya Prasetyahadi

Dalam cerpen Usaha Beras Jrangking karya Prasetyahadi, penulis mengisahkan kehidupan keluarga simar yang susah dan miskin, untuk menjalani kehidupan setiap hari simar bersama suami dan anak – anaknya tidak bermalas – malasan. Mereka berusaha untuk melakukan pekerjaan seperti membeli nasi basi yang tidak dibutuhkan lagi di warung-warung dan mengeringkannya kemudian diolah menjadi beras jrangking setelah itu berkeliling tempat untuk menjual beras jrangking tersebut. Pulang ke jakarta, dan membawa uang tagihan, Simar kembali tenggelam dalam usaha sehari-hari. Sore sampai malam hari, suami dan anak Simar yang laki-laki, keliling ke daerah Grogol sampai Kalideres menggunakan mobil reok. Mendatangi warung-warung tegal dan restoran untuk mengambil nasi sisa-sisa pembeli dan membayar nasi sampah itu sesuai takaran ember (Gramedia, 2007 : 37-38).
Orang-orang miskin yang berada di Indramayu selalu membeli makanan apa adanya sesuai dengan keuangan yang ada pada mereka tidak bisa menikmati makanan enak dan bergisi. Beras Jrangking sangat dibutuhkan oleh orang-orang susah yang tidak mampu beli beras asli dari gabah (Gramedia 2007:37). 
Orang-orang miskin yang memerjuangkan hidup sehari-hari dengan melakukan pekerjaan yang halal sesuai dengan kemampuan mereka, sedangkan orang-orang yang berkuasa hanya melakukan apa saja sesuai dengan keinginan mereka seperti mengambil keuntungan, seperti kejadian yang terjadi pada Simar dan keluarganya. Simar sangat geram pada dua orang preman berkumis tebal yang datang minta tambahan uang atas nama pengamanan wilayah. Padahal Simar dan keluarga tidak punya apa-apa. Tinggal di kawasan kumuh Jakarta Barat, di lokasi terpencil, dan menyewa tanah garapan, entah milik siapa, kepada aparat yang mengaku berkuasa (Gramedia 2007:38).     
Dalam cerpen ini penulis menampilkan kehidupan orang pinggiran (wong cilik) yang sering dilupakan orang atau yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Ini adalah realita yang kita lihat setiap hari. Jika kita membaca koran atau menonton berita di TV, kemiskinan terjadi di mana-mana dan hampir setiap hari pasti ada berita tentang rumah penduduk yang digusur sehingga mereka terpaksa tinggal di gubuk-gubuk dan di kolong-kolong jembatan, karyawan di-PHK sehingga terpaksa menganggur, orang-orang kaya sangat pelit dan tidak pernah memberi sedekah kepada orang miskin, dan masih banyak lagi. Atau bahkan semua peristiwa itu pernah kita saksikan dan alami sendiri.
Lewat tokoh simar, penulis seakan memberikan kritik kepada masyarakat yang kurang bersyukur dan menganjurkan sedekah kepada orang miskin. Cerpen ini diawali dengan kalimat “Sampean harus ikut mikirin, jangan Cuma meres rakyat (Gramedia 2007:38)”. Orang-orang yang hidup di atas kelimpahan, dan memunyai kedudukan yang bagus harus melihat  dan membantu orang-orang yang mengalami kesusahan seperti (DPR) Dengan demikian kritik tidak saja kepada masyarakat, tetapi juga kepada pemerintah dan badan legislatif (DPR) yang dinilai kurang berpihak kepada masyarakat kecil. Untuk sebuah megaproyek yang mendatangkan keuntungan besar, mereka (Pemerintah dan DPR) bersekongkol untuk menggusur rumah-rumah penduduk dengan “bersembunyi” di balik undang-undang dan peraturan-peraturan. Anggota Dewan hanya menjanjikan hal yang muluk-muluk ketika Pemilu. Tetapi setelah itu mereka menjadi “monster” yang mengerikan bagi masyarakat. Kritik ini diperkuat lewat Pak Haji mengeluhkan hidup orang-orang Indramayu makin berat (Gramedia 2007: 37).
Inilah pikiran, perasaan, dan pengalaman penulis tentang ketimpangan sosial yang terjadi dalam masyarakat sehingga ia harus menunjukkan sikap dan memberikan pendapat lewat tokoh-tokoh ceritanya. Tetapi kisah ini juga dapat menjadi pelajaran bagi pembaca agar lebih “adil” terhadap orang-orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat, sebab mereka juga punya harkat dan martabat yang sama dengan kita, mereka punya hak untuk hidup di negeri ini, mereka punya potensi yang dapat dikembangkan sehingga patut untuk diperhitungkan.
Unsur ekspresi dan persuasi ada dalam cerpen ini. Unsur mana yang lebih dominan, tergantung ketajaman analisis pembaca dalam menemukan tujuan penulis. Namun menurut pengkaji unsur ekspresi dan unsur persuasi adalah dua hal yang menonjol dari cerpen ini. “Dengan demikian pengelompokan sebuah teks dalam kategori tertentu mungkin saja merupakan hal yang subjektif sehingga aturan pasti untuk pengelompokan teks tidak dapat kami berikan” Luxemburg, dkk., (1991:57).
Dengan begitu, teks  ekspresif bila tujuannya untuk mengungkapkan buah pikiran, perasaan, pengalaman, dan pendapat pengarang. Teks ekspresif juga memberi informasi tentang dunia nyata dan juga ditujukan kepada pembaca, namun fungsi utamanya adalah penyajian diri si pengarang. Teks persuasif di lain pihak terutama mementingkan penerima, pembaca, atau dalam hal komunikasi lisan, pendengar. Usahanya ialah memengaruhi, meyakinkan atau  mendorong perilaku tertentu. Pengarang menggunakan teknik tertentu untuk mencekam pembaca (dengan ketegangan), mengharukan, menyenangkan, atau mengajarinya (Luxemburg, dkk., 1991:56).
Keluarga simar, penulis seakan memberikan kritik kepada masyarakat yang kurang bersyukur dan menganjurkan sedekah kepada orang miskin. Orang-orang yang hidup di atas kelimpahan, dan memunyai kedudukan yang bagus harus melihat di sebelah dan membantu orang-orang yang mengalami kesusahan. Seperti (DPR) Dengan demikian kritik tidak saja kepada masyarakat, tetapi juga kepada pemerintah dan badan legislatif (DPR) yang dinilai kurang berpihak kepada masyarakat kecil. Untuk sebuah megaproyek yang mendatangkan keuntungan besar, mereka (Pemerintah dan DPR) bersekongkol untuk menggusur rumah-rumah penduduk dengan “bersembunyi” di balik undang-undang dan peraturan-peraturan. Anggota Dewan hanya menjanjikan hal yang muluk-muluk ketika Pemilu.


Tidak ada komentar: