Jumat, Oktober 10, 2014

Pengkajian Fiksi Berdasarkan Nilai Distansi Estetis dalam Karya Sastra

Pengkajian Fiksi Berdasarkan Nilai Distansi Estetis dalam Karya Sastra

            Wellek dan Warren (1995:278) mengatakan, “Memang, semua karya sastra membuat distansi estetis, membentuk dan membuat artikulasi. Dengan cara itu karya sastra menggubah hal-hal yang pahit dan sakit jika dialami atau dilihat dalam kehidupan nyata, menjadi menyenangkan untuk direnungkan dalam karya sastra”. Sedangkan Aristoteles dalam Luxemburg., (1989:19) mengatakan, bahwa seorang pengarang justru karena daya cipta artistik-nya mampu menampilkan perbuatan manusia yang universal.
Dengan demikian jika kita membaca teks-teks sastra, kita berhadapan dengan tokoh-tokoh dan situasi-situasi yang hanya terdapat dalam khayalan pengarang. Datuk Maringgih dalam Siti Nurbaya sebenarnya tidak pernah ada dunia nyata, tetapi kita dapat menemukan tokoh-tokoh di dunia nyata yang sifatnya sama dengan Datuk Maringgih.
            Berbeda dengan laporan seorang wartawan dari medan perang, sebuah karya sastra menciptakan dunia “baru” dengan kreativitas dan imajinasinya yang matang lewat tokoh, latar, alur, serta permasalahan yang mirip dengan dunia nyata. Sesuatu yang terasa asing dan tidak enak untuk dilihat dan dirasakan dalam dunia nyata menjadi indah dan menyenangkan untuk dinikmati dalam karya sastra, sehingga tidak berlebihan jika Horace dalam Wellek dan Warren (1995:25) mengatakan, bahwa sastra itu menyenangkan dan berguna - dulce et utile. Bahkan menurut Wellek dan Warren (1995:30), bahwa salah satu nilai kognitif drama dan novel adalah segi psikologinya. Novelis dapat mengajarkan lebih banyak tentang sifat-sifat manusia daripada psikologi.
Berdasarkan uraian tersebut, berikut  kajian Viona Sapulette berdasarkan  Nilai distansi estetis dalam cerpen Triumaida karya Hasan Al Banna. Namun sebelumnya diperhatikan sinopsis cerpen tersebut, berikut ini.
1.      Sinopsis

Cerpen Tiurmaida bercerita tentang perjuangan seorang perempuan perkasa dalam memertahankan cinta yang telah ia pupuk bersama sang suami, Marsius. Pernikahan Tiurmaida dan Marsius sama sekali tak direstui oleh orangtua Tiur, hingga mereka pun memilih untuk marlojong (kawin lari). Tiur dan Marisus tahu belaka kalau keputusan nekad mereka untuk marlojong akan membuat mereka terbuang dari keluarga dan kampung.

Meski akhirnya berhasil membina rumah tangga, namun mereka tetap gagal dalam hidup. Setelah bertahun-tahun menikah, Tiur belum juga dikarunia seorang anak. Mereka hampir saja putus asa. Namun, setelah berobat kian kemari, akhirnya Tiur hamil dan melahirkan seorang putra. Sayang, putra semata wayang mereka ini pun kemudian meninggal.

Musibah tersebut membuat Marsius terpukul dan menjadi gila. Walaupun tak bisa mengharapkan apa-apa lagi dari Marsius, Tiur tetap menjaga dan merawat suaminya. memilih tetap merawat suaminya meski akhir-akhir ini keluarga Baginda Paruhuman (orangtua Tiur) sering membujuknya agar meninggalkan Marsius. Untuk menghidupi keluarganya, Tiur membanting tulang sebagai seorang buruh harian yang bekerja memecah batu.

Cinta Tiurmaida kepada Marsius tampaknya sudah meagakar dalam. Demi cintanya, Tiur tetap merawat Marsius yang sudah tak bisa apa-apa lagi selain bertingkah aneh di pasungan. Tiur pun menolak keinginan orangtuanya agar mangidolong (cerai) dengan Marius dan menikah dengan anak dari saudara Baginda Parahuman. Ia tak mau, meski keinginan untuk sering terlintas di benaknya. Tiurmaida menolak rencana itu bukan karena lelaki bernama Ali Tukma itu duda beranak tiga, tapi karena ia masih tulus mencintai Marsius.

2.      Kajian Nilai Distansi Estetis dalam Cerpen Triumaida Karya Hasan Al Banna.
Dalam cerpen Triumaida Hasan Al Banna menampilkan dua tokoh yang berbeda   Marsius dan Triumaida yang memiliki kisah hidup yang berbeda. Bermula dari Marsius dan Triumaida menjalin cinta dan ingin meningkatkan ke jenjang yang paling khusus yaitu pernikahan tapi orang tua Triumaida tidak setuju karena mereka (orang tua ) ingin Triumaida kawin dengan pemuda pilihan mereka (orang tua) sendiri, tetap Triumaida tidak mau dan berpaling hati pada laki-laki pilihannya sendiri yaitu Marsius.
Akhirnya Tiurmaida dan Marsius memberanikan diri untuk  kawin lari Lihatlah apa yang dialami, tak sedikit cobaan yang mereka hadapi ketika tak mematuhi aturan adat dan orangtua. Tiurmaida dan Marsius seolah mendapat kutukan leluhur, sehingga anak yang mereka idam-idamkan meninggal, Marsius jadi gila, dan Tiurmaida musti membanting tulang menjadi buruh kasar pemecah batu untuk menghidupi keluarganya.
Cinta Tiurmaida kepada Marsius tampaknya sudah mengakar dalam. Demi cintanya, Tiurmaida tetap merawat Marsius yang sudah tak bisa apa-apa lagi selain bertingkah aneh di pasungan. Tiurmaida  menolak keinginan orang tuanya agar mangidolong (cerai) dengan Marius dan menikah dengan anak dari saudara Baginda Parahuman. Ia tak mau, meski keinginan untuk sering terlintas di benaknya. Tiurmaida menolak rencana itu bukan karena lelaki bernama Ali Tukma itu duda beranak tiga, tapi karena ia masih tulus mencintai Marsius.
Cerita yang disuguhkan oleh pengarang sangat menarik jika tidak dikatakan memukau. Penggunaan gaya bahasa yang tidak membosankan, pengaturan alur campuran yang sempurna sehingga tidak ada satu klimaks yang dominan - memancing rasa ingin tahu pembaca bagaimana akhir ceritanya, gaya penulisan yang lain dari kebanyakan novel angkatan 45 atau 66 - sedikit “memaksakan" pembaca untuk lebih menajamkan analisis dan imajinasi untuk menemukan sebab akibat dalam cerita.
Jika kita lihat peristiwa-peristiwa yang diangkat oleh Hasan Al Banna dalam cerpen ini tidak ada bedanya dari kehidupan nyata. Banyak dialami oleh pemuda-pemudi yang menjalin cinta tapi tidak disetujui oleh orang tua, dan peristiwa ini dari sejak dulu sampai sekarang pasti ada yang terjadi. Sebagai orang tua pasti ingin melakukan yang terbaik untuk masa depan anaknya yaitu dengan cara anak harus mengikuti semua hal mulai dari menentukan pekerjaan sampai pada jodoh bagi anak-anak dalam perkawinan.
Memang kalau dipikir apa yang dilakukan orang tua baik juga untuk anak-anak, tapi untuk hal memilih jodoh sebaiknya serahkan saja pada anak sehingga tidak terjadi hal-hal yang dapat merugikan anak maupun orang tua sendiri. Seperti yang ditampilkan dalam klimaks cerpen Tiurmaida.
Kalau kita menghadapi peristiwa yang ditampilkan dalam cerpen Tiurmaida, memang batin kita tersiksa karena terpisah dengan orang tua dan menghadapi suami yang mengalami gangguan jiwa. Tapi kita harus tetap mencintai lelaki yang kita pilih, menerima lelaki itu apa adanya dan dewasa dalam mengadapi cobaan dalam rumah tangga. Jika fenomena ini kita baca dalam sebuah harian, katakanlah Jawa Pos atau Radar Surabaya, tidak akan memunyai arti apa-apa, sambil lalu saja kita membacanya tanpa berpikir lebih jauh lagi. Apalagi kalau itu berita kriminal yang disertai gambar kepala manusia yang pecah atau tubuh anak kecil yang dipotong, kita akan merasa ngeri dan takut. Setelah dibaca, dibuang begitu saja atau dijadikan tempat membungkus kacang. Mengapa? sebab menurut Luxemburg, dkk., (1989:19) bahwa seorang wartawan melaporkan apa yang menurut pengamatannya terjadi dalam kenyataan. Ia menampilkan laporannya sebagai sesuatu yang sungguh terjadi dan demikian juga tanggapan pembaca. Kita dapat mengecek apakah tulisan wartawan itu benar atau tidak, karena laporannya juga dapat dicek oleh orang lain. Jika laporannya tidak sesuai dengan kenyataan pembaca dapat menuduhnya sebagai pemerkosa kenyataan.
 Hal ini akan berbalik 180 derajat, jika yang kita baca adalah sebuah kisah cinta atau kekerasan dalam rumah tangga yang dikemas menjadi sebuah bentuk lain yang namanya karya sastra. Yang menjadi bahan sebuah novel, cerpen atau teks sastra yang lain adalah kehidupan manusia dengan segala permasalahannya. Penulis bukan berlayar ke “dunia gaib” dan kembali membawa sebuah novel atau cerpen. Tetapi apa yang ia dengar, alami, dan rasakan dalam kehidupannya diubah ke dalam bentuk bahasa dengan daya kreasi dan didukung oleh kemampuan imajinasi yang tinggi menjadi sebuah karya sastra. Bahasa yang digunakan penuh asosiasi, ambiguitas, konotatif untuk mengungkapkan ekspresi penulis. Tulisan seorang penulis atau pengarang sastra tidak dapat dicek kebenarannya karena kebenaran sastra adalah kebenaran yang ada dalam imajinasi pengarang.
Dalam novel Tiurmaida, kita menemukan permasalahan yang juga terjadi dalam kehidupan masyarakat. Tapi apakah kita dapat mengecek kebenarannya, tokoh-tokohnya, atau tempat-tempat kejadiannya. Apa benar ada orang yang namanya Tiurmaida yang menjadi buruh kasar pemecah batu yang memunyai suami untuk Marsius yang mengalami ganguan jiwa. Semua itu hanyalah tokoh rekaan saja yang sengaja diciptakan oleh Hasan Al Banna untuk membawa misinya. Dengan demikian tokoh-tokoh itu diberi tugas dan peran oleh Hasan Al Banna dalam menyampaikan tema yang diusungnya. Jadi jelaslah apa yang dikatakan oleh Desmont McCarty, Meredith, Conrad, Henry James, dan Hardy dalam Wellek dan Warren (1989:279) Semuanya telah meniup gelembung-gelembung  yang besar dan bercahaya. Di dalamnya semua manusia yang digambarkannya, meskipun bisa disamakan dengan orang-orang dalam kehidupan nyata, hanya bersifat nyata dalam dunia yang diciptakan untuk mereka.
Dalam novel Tiurmaida pembaca dapat saja mengidentikan dirinya dengan tokoh Tiurmaida dan Marsisus. Atau dengan permasalahan yang dihadapi oleh salah satu di antara mereka. Dengan membaca cerpen ini kita dapat membuat perenungan yang mendalam tentang “makna” sebuah cinta sejati. Kemampuan Hasan Al Banna untuk membawa pembaca masuk ke dalam “dunia” yang diciptakannya lewat tokoh-tokoh cerita menjadikan cerpen ini enak dibaca sekalipun sedikit mengerutkan dahi untuk mengerti jalan ceritanya.
Penulis  (Hasan Al Banna) mampu membuat jarak estetis atau distansi estetis dalam novel ini sehingga permasalahan yang tadinya dapat dianggap sudah “usang” menjadi sesuatu yang enak untuk dinikmati. Penulis seakan membuat sebuah “sejarah kasus”  baru yang patut dibaca berulang-ulang.
Benarlah apa yang dikemukakan oleh Wellek dan Warren (1995:278) memang, semua karya sastra membuat distansi estetis, membentuk dan membuat artikulasi. Dengan cara itu karya sastra menggubah hal-hal yang pahit dan sakit jika dialami atau dilihat dalam kehidupan nyata, menjadi menyenangkan untuk direnungkan dalam karya sastra. Sedangkan Aristoteles dalam Luxemburg., (1989:19) mengatakan, bahwa seorang pengarang justru karena daya cipta artistik-nya mampu menampilkan perbuatan manusia yang universal.
Dalam cerpen Tiurmaida karya Hasan Al Banna, penulis melihatnya dari unsur jarak estetis atau distansi estetis karena dengan membaca cerpen ini kita dapat membuat perenungan yang mendalam tentang makna sebuah cinta sejati. Dengan begitu, kemampuan Hasan Al Banna untuk membawa pembaca masuk ke dalam dunia yang diciptakannya lewat tokoh-tokoh cerita menjadikan cerpen ini enak dibaca sekalipun sedikit mengerutkan dahi untuk mengerti jalan ceritanya (Sapulette, 2009).


Tidak ada komentar: