Minggu, Mei 22, 2011

PUISI PERADUAN MENANTI KARYA CICI SUATU KAJIAN STELISTIKA

A. Latar Belakang

Karya sastra seperti puisi merupakan pancaran sosila dan gejolak kejiwaan yang timbul dalam batin penyair. Pancaran kehidupan tersebut timbul akibat adanya interaksi langsung maupun tidak langsung, secara sadar maupun tidak sadar, dalam suatu keadaan yang dialami diwujudkan dalam bentuk tulisan ditata sedemikian rupa dengan menggunakan kata-kata singkat dan padat .

Umumnya puisi mengandung makna konotatif, serta membawa rasa keindahan baik ditinjau dari segi bahasa bagi orang yang menikmatinya maupun ditinjau dari segi isi orang yang mendalaminya.

Puisi, pada dasarnya memunyai tujuan yang sama dengan sastra lainnya yaitu untuk memberikan nilai keindahan dan nilai moral bagi kehidupan manusia. Puisi lahir melalui renungan berdasarkan pengamatan terhadap realita kehidupan. Di samping itu, puisi mengandung ketidakpastian. Oleh karena itu, pembaca berada dalam tanggapan antara ketidakpastian dan kepastian, antara mengerti dan tidak mengerti. Di sinilah terletak seni suatu puisi, karena nilai suatu puisi terletak pada maknanya, maka setiap kali dibaca mengandung pemikiran atau inspirasi baru.

1

Puisi, akan memberikan nuansa baru yang khas pada pembaca apabila pembaca yang bersangkutan dapat memahami apa yang dibacanya. Untuk memahami puisi secara utuh perlu diketahui dan dimengerti bahwa puisi itu adalah karya bernilai estetis yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna. Oleh karena itu, sebelum pengkajian aspek-aspek lain, terlebih dahulu puisi dikaji sebagai sebuah struktur yang bermakna atau bernilai estetis.

Pengamatan terhadap puisi melalui pendekatan struktur untuk menghubungkan suatu tulisan dengan pengalaman bahasanya disebut analisis stelistika. (Widdowson, 1997:133). Sehubungan dengan itu Nababan (1999:43) mengemukakan bahwa stelistika memberi suatu sarana bagi pelajar sastra untuk mampu memahami sastra dari tinjauan ilmu linguistik, dan ini diharapkan membantu pelajar lebih mampu menikmati sastra.

Penikmatan terhadap karya sastra tidak bisa dilakukan tanpa memertimbangkan struktur. Penikmatan terhadap karya sastra melalui interpretasi keseluruhannya tidak dapat dimulai tanpa pemahaman bagian-bagiannya. Kendati demikian, interpretasi bagian mengandalkan lebih dahulu pemahaman keseluruhan karya itu (Teeuw 1984, 123). Lebih lanjut Teeuw mengemukakan bahwa interpretasi ungkapan bahasa dalam arti yang lebih luas menurut maksud inilah yang disebut sebagai hermeneutika.

Chvatik mengemukakan stilistika sebagai kajian yang menyikapi bahasa dalam teks sastra, sebagai kode estetik dengan kajian stilistik sebagaimana bahasa menjadi objek kajian linguistik (Aminuddin :1995 :22). Sedangkan menurut Rene Wellek dan Austin Warren, stilistika perhatian utamanya adalah kontras sistem bahasa pada zamannya (Wellek dan Warren : 1990 : 221).
Bertolak dari berbagai pengertian di atas, Aminuddin mengartikan stilistika sebagai studi tentang cara pengarang dalam menggunakan sistem tanda sejalan dengan gagasan yang ingin disampaikan dari kompleksitas dan kekayaan unsur pembentuk itu, dijadikan sasaran kajian hanya pada wujud penggunaan sistem tandanya. Walaupun fokusnya hanya pada wujud sistem tanda, untuk memeroleh pemahaman tentang ciri penggunaan sistem tanda bila dihubungkan dengan cara pengarang dalam menyampaikan gagasan pengkaji perlu pula memahami (i) gambaran objek/peristiwa, (ii) gagasan, (iii) ideologi yang terkandung dalam karya sastranya (Aminuddin : 1995 :46).

B. Fokus

Fokus dalam kajian ini adalah sebagai berikut:

1. 1. Struktur batin dalam puisi Peraduan Menanti yang terdiri atas: bunyi, irama, diksi, bahasa kias, citraan, sarana retorika, gaya bahasa, dan ketatabahasaan.

2. 2. Struktur batin dalam puisi Peraduan Menanti yaitu makna puisi

C. Tujuan

Tujuan kajian ini diarahkan untuk mendapatkan penjelasan informasi, layak dan akurat tentang tentang: struktur lahir dan struktur batin dalam puisi Peraduan Menanti karya Cici.

D. Manfaat

Hasil kerja ini diupayakan mendapat pencerahan perspektif baru sebagaimana pernyataan-pernyataan teoretis yang dihasilkan dalam tugas ini. Sementara itu, diharapkan dapat bermanfaat, dalam pengembangan dan peningkatan pengetahuan ilmu sastra pada umumnya, dan kajian stelistika khususnya.


E. Teori

1. Definisi dan Konsep Stilistika

Leech, Geoffey dan Short (1981: 10) membedakan istilah style dan stylistics. Dalam arti luas style mengacu pada bagaimana bahasa dipakai dalam konteksnya oleh seseorang untuk tujuan tertentu. Verdonk (2002:3) mendefinisikan style sebagai ungkapan khusus dalam bahasa.

Dari kedua definisi ini dapat disimpulkan bahwa style berhubungan dengan cara atau gaya khas dari seorang pengarang untuk mengungkapkan pikirannya dalam konteks tertentu dan untuk maksud tertentu pula sehingga style disebut ’menggunakan pikiran’. Karena style dari seorang pengarang itu unik, ada yang mengatakan bahasa ’gaya manusia (pengarang)’.

Sebaliknya stylistics mengacu pada, ’kajian bahasa mengenai gaya’. Menurut Verdonk (2002:4) mengkaji ungkapan yang distingtif dalam bahasa dan mendeskripsikan maksud dan efeknya.

Stilistika biasanya dihubungkan dengan karya sastra, maka Toolan (1998:viii) mendefinisikan stilistika sebagai kajian bahasa dalam sastra. Senada dengan itu, Sujiman (1993:3) menyatakan bahwa stilistika meneliti ciri khas penggunaan bahasa dalam wacana sastra, ciri-ciri yang membedakannya dengan wacana nonsastra, meneliti deviasi terhadap tatabahasa sebagai sarana literer. Dengan demikian, stilistika lebih banyak berhubungan dengan kajian gaya bahasa dalam wacana sastra.

Dalam sebuah karya sastra stilistika memiliki peran yang sangat menentukan, karena dengan pilihan bentuk-bentuk atau variasi-variasi yang berbeda, penulis memiliki alasan tertentu dalam menulis karyanya untuk mencapai tujuan. Penulis dihadapkan pada cara menggunakan bahasa yakni memilih kata dan merangkainya jadi kalimat hingga menjadi sebuah cerita yang dapat memengaruhi pembaca.

Di samping itu, kajian stilistika pun menyangkut cara dan gaya pengungkapan seseorang melalui produk kebahasaan dan kesastraan, sehingga ujaran dan kalimat yang dihasilkan mencapai estetika ekspresi ketika ditangkap penerima pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan. Pola pengungkapan yang memiliki keindahan dan sesnsualitas bagi penerima tersebut diharapkan menghasilkan proses komunikasi kebahasaan dan kesastraan yang dapat mencapai goal atau sasaran.

Menurut Leech & Short (1981:13) stilistika merupakan kajian terhadap wujud performansi kebahasaan, khususnya yang terdapat dalam karya sastra. Lanjut Leech & Short mengemukakan bahwa analisis stilistika biasanya dimaksudkan untuk menerangkan sesuatu, yang pada umumnya dalam dunia kesusastraan untuk menjelaskan hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik dan maknanya. Lain halnya pernyataan Chapman (1973:13) bahwa stilistika sebenarnya dapat ditujukan terhadap berbagai ragam penggunaan bahasa, tidak terbatas pada sastra saja.

2. Aspek-aspek Puitika Kognitif

a. Aspek eksternal

Hubungan emosional dengan puisi. Kajian antara emosional dan puisi seperti ini ditujukan untuk melihat kesamaan (struktural); struktural dalam hal ini berupa bentuk puisi, dengan emosi.

Bahasa yang digunakan oleh pengarang adalah sebagai manifestasi emosi. Dalam genre tertentu seperti puisi lirik, karya sastra adalah emosi itu sendiri. Tanpa emosi maka karya sastra sama dengan ilmu pengetahuan, bahasanya adalah bahasa baku, sama dengan bahasa orang lain. Sebaliknya dalam sastra, sebagai emosi, susunan bahasa tidak akan pernah sama sebab kalau sama maka nilainnya akan berkurang atau tidak bernilai sama sekali. Oleh karena itulah, ada metafor mati (usang) karena sudah sering digunakan. Dalam karya sastra nilai bahasa sama dengan isinya, bahkan melebihinya. Dalam kaitan ini, kedudukan emosi menjadi penting. Elemen-elemen emosi itu antara lain mencakup:

a. Situasi kognitif

b. Tingkatan atau level kualitas emosi atau energy (level yang semakin meningkat berupa perasaan senang, sedangkan level yang semakin menurun berupa perasaan sedih).

c. Ketersebaran informasi dalam hubungan emosional

d. Aktivitas informasi

Keterkaitan antara emosional dengan puisi sangat dimungkinkn adanya. Puisi disusun atas dasar kata-kata, kata-kata itu hanya berfungsi sebagai material. Penyair tidak hanya mengatakan sesuatu, tetapi mengatakannya dengan cara tertentu. Sehingga muncullah kekhasan-kekhasan dalam karya. Kekhasan-kekhasan ini dibentuk melalui elemen-elemen. Elemen yang dimaksudkan sebelumnya belum ada, jadi secara keseluruhan diciptakan secara tiba-tiba sehingga melahirkan citra yang selanjutnya disebut sebagai citra puitika.

Citra puitika inilah yang nantinya mendapat persepsi dari pembaca. Dan dari hasil persepsi ini menimbulkan berbagai efek, salah satunya berupa efek emosional terhadap karya. Tingkat emosional persepsi pembaca inilah yang nantinya dapat menentukan kategori cepat atau lambatnya seseorang dalam memersepsi sebuah karya dalam hal ini puisi.

Kategori cepat dan lambat dalam persepsi. Seseorang dalam memahami karya sastra itu memiliki persepsi yang berbeda-beda. Dalam hal ini persepsi seseorang dikategorikan menjadi dua yaitu:

1. Persepsi yang dipercepat (rapid), adanya penyembunyian perasaan dalam informasi sehingga dipercepat.

2. Persepsi yang ditangguhkan (delayed), adanya penonjolan perasaan sehingga memperlambat persepsi

Gaya persepsi seseorang, merupakan pola dalam mengkritik suatu karya sastra. Seseorang menunjukkan persepsinya, baik cepat ataupun lambat terhadap karya sastra terlihat dalam bentuk kritikan karya sastra. Semisal ada orang yang mengkritik karya sastra, puisi; ia mengatakan “puisi ini menarik”, maka secara tidak langsung si pengkritik memunculkan emosi sehingga memunculkan keputusan untuk memersepsi lebih cepat.

Selain emosional, efek persepsi sebuah puisi tergantung pula pada struktur dan performa mental pembaca terhadapnya. Performa alternatif dari puisi yang sama mungkin menghasilkan efek-efek persepsi yang berbeda.

b. Aspek internal

Puitika kognitif mengaji unsur-unsur kebahasaan. Puisi bukan lagi sekedar variasi tetapi memang direncanakan jadi gaya penyajian. Puisi mengorganisasikan bahasa secara khas dan memunculkan gaya penulisan yang khas pula. Hal ini terlihat di antaranya melalui penggunaan rima, ritma dan metrum serta tipografi.

Selain itu pula, membahas struktur sintaktik dan struktur tematik. Struktur sintaktik (struktur fisik) ialah apa yang tersurat atau ditulis; dan secara tradisional disebut “bentuk, atau bahasa, atau unsur bunyi”. Diksi dan pola kalimat merupakan unsur-unsur struktur sintaktik. Sedangkan apa yang tersirat, atau tidak tertulis, tapi terpahami disebut struktur tematik (struktur batin atau makna). Majas dan simbol merupakan unsur-unsur struktur tematik.

Struktur tematik, terlihat dari penggunaan metafor. Metafor didefinisikan sebagai majas atau semua bentuk kiasan, penggunaan bahasa yang dianggap ‘menyimpang’ dari bahasa baku. Dilihat dari kahikat karya sastra secara keseluruhan, sebagai kualitas estetis, perbandingan dianggap sebagai majas yang paling penting sebab semua majas pada dasarnya memiliki ciri-ciri perbandingan. Metaforlah yang paling banyak dan paling intens dalam memanfaatkan perbandingan. Sebagi animal symbolicum kemampua manusia adalah membandingkan. Makin banyak unsur-unsur perbandingannya atau makin pandai seseorang pengarang mencari perbandingan suatu objek maka karyanya semakin bermutu. Perbandingan melibatkan dua kemampuan dasar manusia, emosional dan intelektualitas. Kualitas metaforis karya seseorang pengarang tergantung dari persepsi-persepsi intuitif dalam menemukan persamaan di antara ketidaksamaan.

Pada umumnya metafor dipahami sebagai imajinasi puitika dan hiasan retorika, sebagai bahasa khas. Dari kekhasan bahasanya itulah, didalamnya memunculkan makna yang kompleks. Makna dalam metafor tidak ada dalam dirinya sendiri melainkan di dalam dan melalui penafsiran, sehingga ide yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan dengan ide kata-kata semula. Dalam kaitannya dengan pemaknaan metafor ini, yang secara tidak langsung dipertimbangkan adalah rasa emotif dan kognitif. Rasa emotif dengan memunculkan nilai rasa (perasaan). Sedangkan kognitif, yakni dengan membandingkan dua hal yang faktanya memiliki persamaan secara logis dan masuk akal. Secara umum dari sudut pandang isi-ide, metafora dibagi menjadi metafora fungsional (functional metaphors) (A disebut B dari sudut pandang apa yang ia lakukan), dan metafora indera (sensuous metaphors) (A disebut B dari sudut pandang seperti apa ia terlihat, atau tercium, atau terasa) (Brooke-Rose 1958:155).

Interpretasi “the moon (…) like a white breast shedding its milk” (bulan … seperti payudara putih yang mengeluarkan susunya) adalah contoh dari sensuous metaphors. Dalam hal ini bulan diinterpretasikan sebagai payudara putih yang mengeluarkan susunya bukan karena fungsinya sebagai sumber kehidupan tetapi lebih pada seperti apa ia terlihat; bahwa bulan adalah sebuah benda bulat yang didekatnya ada objek putih, galaksi bima sakti (milky way).

Sensuous readers cenderung menginterpretasikan metafora berdasarkan pada apa yang terlihat dan bukan pada apa fungsinya. Para pembaca seperti ini umumnya memersepsikan gambar (image) sebagai grotesque yang mengandung konsep sesuatu yang secara simultan dapat ditertawakan dan menakutkan atau menjijikkan. Baik lelucon maupun horror atau kejijikan adalah mekanisme pertahanan dari adanya ancaman. Horror atau kejijikan memungkinkan bahaya masuk sementara lelucon menolaknya.

Grotesque adalah pengalaman disorientasi emosi ketika kedua mekanisme pertahanan tersebut secara tiba-tiba tersendat. Beberapa penulis lain menyatakan bahwa grotesque adalah bersifat fisik, selalu merujuk pada tubuh atau kotoran-kotoran tubuh dan digunakan secara bebas, kasar tetapi menyenangkan/lucu. ‘Seringkali tertawa kita terpicu oleh hal-hal yang secara fisik terlihat kotor, tidak normal, dan menjijikkan.” Dalam grotesque ada semacam ‘kesenangan dalam melihat hal yang tabu dipermainkan.’ Payudara putih adalah salah satu contohnya.

Penggunaan majas, dari majas puisi memola berbagai makna. Pola tersebut mengenalkan pembaca pada sesuatu yang dihayati penyair. Makna biasanya terpola pada isi dan bentuk. Isi: tersirat melalui bahasa kiasan atau pengungkapan tidak langsung. Bentuk: merupakan makna tambahan yang terkias lewat tipografi puisi yang unik, serta penggunaan rima, ritma dan metrum.

Kualitas karya-karya sastra terkandung dalam aspek-aspek yang tersembunyi. Salah satunya terlihat dari makna. Makna dalam sajak tidak terkandung dalam kalimat, tetapi dalam larik-larik. Pertama, seperti diketahui bahwa puisi isinya padat. Makna tidak hanya terkandung dalam kata-kata, tetapi juga dalam tanda baca, huruf kapital bahkan bentuk huruf. Kedua, larik tidak semata-mata terdiri atas rangkaian kata-kata tetapi juga bunyi, irama, tempo, enjambemen, dan citra bahasa lainnya. Ketiga, bagi pembaca larik yang pendek memberikan kemungkinan untuk memberikan makna secara rinci dan mendalam. Dengan kata lain, pada dasarnya kata-kata tunduk pada struktur ritmis, bukan struktur sintaksis. Dalam hal ini, maka aspek terpenting dalam puisi adalah kesan, pendapat, suasana batin, dan perasaan, bukan cerita dan bukan juga plot.

Persentuhan puisi dengan pembacanya ditentukan antara lain oleh rasa haru. Rasa haru puisi bukan sekadar kecengengan dari gaya ungkap sentimentil. Akan tetapi, lebih terkait dengan kandungan makna yang luas dan mendalam. Rasa haru merupakan segmentasi tersendiri di dalam kepenyairan. Perspektif romantisme menunjukkan jalinan tese kepenyairan yang menggali pengalaman kemanusiaan seperti sedih, senang, tangis, tawa dan sebagainya. Jadi, ketika pembaca tersentuh rasa kemanusiaannya karena menemukan sesuatu di dalam asosiasi, konotasi, dan simbolisme yang diterapkan penyair puisi, pada dasarnya pembaca telah bertemu dengan sebuah nilai puitik.

Sedangkan struktur sintaktiknya terlihat dari stilistika kalimatnya bisa disusun menyimpang, bisa pula dibangun dengan keteraturan tertentu. Hal itu membentuk pola sintaksis tertentu yang terdiri dari pengulangan, pembalikkan, dan penghilangan. Kalimat pengulangan ini terlihat antara lain dalam kesamaan struktur kalimat, atau bagian kalimat, yang terbentuk oleh kata, frasa, atau konstruksi gramatikal yang sama

Contoh popular bentuk kalimat ini, ucapan Julius Caesar, veni, vidi, vici: saya datang, saya lihat, saya menang. Bila dicontohkan lewat puisi, ini bisa dilihat dari karya Sutardji Calzoum Bachri (1976),

Tapi: Aku bawakan bunga padamu /

tapi kau bilang masih //

aku bawakan resahku padamu /

tapi kau bilang hanya //

Bentuk Pembalikan (Inversi) ialah urutan kata yang terpola tidak normal, disebut juga pola infrastrukturisasi. Dalam kalimat normal, urutan terpola berdasarkan subjek, predikat, dan objek; serta terurut berdasar Hukum D-M. Dalam Pembalikan, kalimat dapat menjadi: cantik wanita itu, atau itu cantik wanita. Inversi mengekspresifkan sesuatu, dan menekankan makna tertentu. Contoh, bisa terlihat dalam pengucapan,

“lahir / pujangga / di hari senja” (Subagio Sastrowardoyo), atau

“tiga kali / menyebut beta / punya nama” (Chairil Anwar).

Sedangkan dalam Elips, terjadi penghilangan bagian kalimat tertentu. Dalam Zeugma, penghilangan terjadi ketika sebuah bagian kalimat dihubungkan dengan dua bagian lainnya, seperti dinyatakan William Shakespeare dengan kalimat:

Nor God, nor I, delights in prejured men (Tidak Tuhan, tidak juga aku, suka pada pengkhianat). Kalimat ini menghilangkan verba delights namun sekaligus menghubungkan nor God dan nor I dengan verba delights. Secara gramatikal, susunan yang benar ialah Nor God delights, nor I delights in prejured men. Penghilangan kerap dilakukan karena banyak hal. Di antaranya karena kebutuhan untuk membedakan kalimat sehari-hari, yang dianggap datar, agar menjadi lain. Atau untuk menunjukan proses pemikiran yang tak utuh karena kepentingan tertentu. (Semino, Elena dan Jhonathan Culpaper: 2002 )

F. Kajian

Kajian stilistika merupakan bentuk kajian yang menggunakan pendekatan objektif. Dinyatakan demikian karena ditinjau dari sasaran kajian dan penjelasan yang dibuahkan, kajian stilistika merupakan kajian yang berfokus pada wujud penggunaan sistem tanda dalam karya sastra yang diperoleh secara rasional-empirik dapat dipertanggung jawabkan. Landasan empirik merujuk pada kesesuian landasan konseptual dengan cara kerja yang digunakan bila dihubungkan dengan karakteristik fakta yang dijadikan sasaran kajian.

Pada apresiasi sastra, analisis kajian stilistika digunakan untuk memudahkan menikmati,memahami, dan menghayati sistem tanda yang digunakan dalam karya sastra yang berfungsi untuk mengetahui ungkapan ekspresif yang ingin diungkapkan oleh pengarang.

Bermuara dari uraian tersebut, implikasi analisis kajian stelistika dalampuisi Asrab dapat dilihat berikut ini.

Peraduan Menanti

Kubalut sepi ini
Kugenggam dengan tasbih
Kurajut dengan zikir
Kumunajab pada Illah ku


Perempatan malam menjemput
Perkutuk bertasbih
Dedaunan merunduk
Sahutan kokok ayam dengan tasbihnya
Ya Karimullah

Bayu semilir
Kubermunajab pada Illah ku
Takbir, tahmid, zikir enggang usai
Di perempatan malam kudendangkan

Asa ini setia menanti uluran
Karena ia kan ujud
Bagia...
Cinta…
Sayang...
Di peraduan . . .

1. Analisis Bunyi

Wellek, mengemukakan bahwa bunyi dapat diibaratkan sebagai warna cat yang digoreskan oleh pelukis di atas kanvas. Keindahan bunyi bisa terjadi karena karakter dari bunyi itu sendiri. Tetapi juga bisa terjadi karena perpaduan antara bunyi satu dengan bunyi lainnya, di samping dihubungkan dengan unsur yang terkait dengan keindahan bunyi itu sendiri, misalnya titik nada, lama bunyi, tekanan dan pengulangan. (Azis, 2007: 40).

Berangkat dari uraian tersebut, berikut diperhatikan bunyi yang terdapat dalam puisi Peraduan Menanti.

a. Asonansi

Asonansi adalah ulangan bunyi vokal yang terdapat pada baris-baris puisi, yang menimbulkan irama tertentu sering dipergunakan dalam simbolik bunyi.

Pada bait pertama terdapat asonansi u dan i / e dan a / u, a, dan i / u dan a.

Pada bait kedua terdapat asonansi e dan a / u dan e / e, a, dan u / a dan o / a.

Pada bait ketiga terdapat asonansi i berturut-turut / u dan a / a dan i / e dan a.

Pada bait keempat terdapat asonansi a, i, dan u / a dan u / a / i / u.

b. Aliterasi

Menurut Teeuw, aliterasi adalah pengulangan konsonan, yang menurut berfungsi mendekatkan kata-kata lepas dari hubungan semantik biasa. Selain itu, aliterasi menekankan struktur ritmek sebuah larik dan memberi tekanan tambahan kepada kata-kata yang bersangkutan (Azis, 2007: 40).

Aliterasi dalam puisi Peraduan Menanti terlihat pada:

Pada bait pertama - / g dan n / r dan n /k dan l

Pada bait kedua p, m, dan t / r,k dan b / d dan e / s, h, t, k, n, dan y

Pada bait ketiga - / k, b, dan l / t, r, dan k / d, p, m, n, k, dan d

Pada bait keempat s, n, dan t / k / - / - / - / d.

c. Orkestrasi

Orkestrasi pada puisi Peraduan Menanti didominasi vokal a, i, u, dan e , dikombinasi konsonan k,l, p, m, d, dan b, bunyi sengau m, n, ny, dan ng, liquida l dan r, sehingga menimbulkan bunyi sendu dan suasana khusyuk. Orkestrasi ini disebut efoni.

2. Analisis Irama

Irama dalam puisi Peraduan Menanti terlihat melodi yaitu susunan deret suara yang teratur dan berirama. Hal ini ditandai adanya pengulangan kata ku pada bait pertama menyeabkan aliran perasaan ataupun pikiran tak terputus dan terkonsentrasi sehingga menimbulkan bayangan angan (imaji-imaji) yang jelas dan hidup.

Demikian pula pada bait kedua terdapat pengulangan bunyi per berturut-turut, bait pertama baris keempat /kubermunajab pada Illahku/ berulang pada bait ketiga baris kedua. Pengulangan ini pun menimbulkan adanya pesona atau daya magis sehingga telihat para pembaca atau pendengar berada dalam keadaan extase (keadaan diri dengan objeknya).

3. Analisis Diksi

Diksi adalah pilihan kata atau frase dalam karya dalam karya sastra (Abrems, 1981). Setiap penyair akan memilih kata-kata yang tepat sesuai dengan maksud yang ingin diungkapkan dan efek puitis yang ingin dicapai. Diksi seringkali pula menjadi ciri khas seorang penyair atau zaman tertentu (Wiyatmi, 2006).

Seringkali penyair mengganti kata-katanya untuk mendapatkan pilihan yang tepat. Pilihan yang tepat itu disesuaikan dengan unsur bunyi, disesuaikan dengan arti, suasana, tempat terjadinya peristiwa, dan konsep keindahan.

Pilihan kata yang disesuaikan dengan bunyinya, seperti kutipan puisi di bawah ini

Kubalut sepi ini
Kugenggam dengan tasbih
Kurajut dengan zikir
Kumunajab pada Illah ku

Kubalut dapat diganti’ kubungkus’, kugenggam dapat diganti ‘kupegang erat-erat’, kurajut dapat diganti kuanyam, dan kumunajab dapat diganti ‘kumohon’. Kendati pergantian itu dapat mengurangi kemerduan dan mengubah gambaran angannya. Sehingga dengan demikian kata-kata atau diksi yang dipergunakan oleh Asrab dalam puisi Peraduan Menanti sudah tepat membangkitkan kontemplasi pembaca.

Pada bait- bait berikutnya /perempatan malam menjemput/ penulis puisi tidak menggunakan diksi ‘tengah malam atau pukul tiga pagi’; /perkutuk bertasbih/ dapat saja diganti ‘semua bangsa unggas pada berkotek-kotek’; / bayu semilir/ dapat diganti angin yang bertiup atau angin berhembus; / enggang usai / dapat diganti dengan diksi ‘tidak selesai’; / kudendangkan / dapat diganti ‘kunyanyikan’; /asa / dapat diganti ‘cita-cita’ atau ‘angan-angan’; /ujud / dapat diganti ‘muncul’.

Dengan begitu, dapat dipahami bahwa puisi Peraduan Menati dominan diksi yang dipakai oleh pengarangnya adalah diksi yang bermakna relegi (tasbih, zikir, Illahku, Ya Karimullah, takbir, tahmid ). Sehingga pembaca dapat menyimpulkan bahwa penyair sangat dekat dengan Sang Pencipta Allah Subhanahu wa Taala.

4. Analisis Bahasa Kias

Bahasa kias atau figurative language merupakan penyimpangan dari pemakaian bahasa yang biasa, yang makna katanya atau rangkaian katanya digunakan dengan tujuan untuk mencapai efek tertentu (Abrams, 1981). Sementara Luxemburg menjelaskan bahwa bahasa kias (kiasan) sering dipandang sebagai ciri khas bagi jenis sastra yang disebut puisi. Sekalipun ada puisi yang hampir tidak menampilkan kiasan-kiasan, tetapi dalam banyak sajak kiasan itu penting bagi susunan makna (Azis, 2007: 63)

Kiat penyair untuk mengungkapkan perasaannya atau menggambarkan pikirannya ke dalam rangkaian kata-kata pada bait-bait puisi. Bahasa kias merupakan salah satu unsur kepuitisan dalam puisi. Memahami bahasa kias berarti: memahami makna puisi. Dalam KBBI, bahasa kias adalah bahasa yang memergunakan kata-kata yang tersusun dan artinya sengaja disimpangkan dengan maksud agar memeroleh kesegaran dan kekuatan ekspresi. Kata kias mengandung arti perbandingan, ibarat, contoh yang telah terjadi (Alwi Hasan, 1994).

Bahasa kias yang dipergunakan Asrab dalam Peraduan Menanti adalah personifikasi, yaitu kiasan yang memersamakan benda-benda mati dengan manusia yang hidup dengan segala aktivitasnya.

Peraduan menanti maksudnya seseorang yang menanti di suatu tempat yang sudah lama diangan-angankan. Kubalut sepi ini / Kugenggam dengan tasbih /
/Kurajut dengan zikir / Kubermunajab pada Illah ku /. Sepi diibaratkan sebuah barang yang bisa dibalut, digenggam , dan dirajut untuk memohon pada Tuhannya yaitu Allah Subhanahu wa Taala.

Perempatan malam menjemput, maksudnya dipertengahan malam diperkirakan pukul 3.00 semua makhluk ciptaan-Nya pada berzikir bermunajab, memohon ampunan yang diperjelas dengan larik-larik /Perkutuk bertasbih
/Dedaunan merunduk / Sahutan kokok ayam dengan tasbihnya/ Ya Karimullah /.

Pada bait ketiga terdapat bahasa kias metonimia, yaitu / Bayu semilir / Kubermunajab pada Illah ku / Takbir, tahmid, zikir enggang usai / Di perempatan malam kudendangkan/. Maksudnya zikir yang dilantunkan pada perempatan malam buat mengingat Allah, seakan-akan tidak akan selesai. Dengan demikian, metonimia dalam puisi Peraduan Menanti menurut (Luxemburg, dkk, 1984) maksudnya pengertian yang satu dipergunakan sebagai pengertian yang lain yang berdekatan. Kaitan-kaitan tersebut berdasarkan berbagai motivasi, misalnya karena ada hubungan kausal, logik, hubungan dalam waktu atau ruang.

5. Analisis Citraan

Citraan merupakan salah satu unsur puisi yang sangat penting kehadirannya dalam membangun keutuhan dan kekuatan puisi. Citraan yang terdapat dalam puisi Peraduan Menanti dominan citraan pendengaran: /Perkutuk bertasbih / Sahutan kokok ayam dengan tasbihnya /Ya Karimullah /. Sementara itu terdapat pula citra gerak, / bayu semilir/.

6. Analisis Sarana Retorika

Sarana retorika merupakan salah satu unsur pembangun puisi yang digunakan penyair sebagai alat untuk menyampaikan pikiran, perasaan dan gagasan kepada pembaca atau pendengar. Kedudukannya untuk mendukung makna puisi. Altenbernd (1970) mengistilahkan sarana retorika sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran. Dengan muslihat itu para penyair berusaha menarik perhatian, pikiran, hingga pembaca berkontemplasi atas apa yang dikemukakan penyair. Pada umumnya sarana retorika menimbulkan ketegangan puitis karena pembaca harus memikirkan efek apa yang ditimbulkan dan dimaksudkan oleh penyairnya (Pradopo, 2005).

Sarana retorika dalam puisi Peraduan Menanti adalah ellipsis. Hal ini tampak pada bait keempat /bagia . . . / cinta . . ./ sayang . . ./ di peraduan . . .

7. Analisis Gaya Bahasa

Menurut Lodge (1969) gaya itu adalah orangnya sendiri. Meskipun tiap pengarang memiliki gaya dan cara sendiri dalam melahirkan pikiran, namun ada sekumpulan bentuk atau beberapa macam bentuk yang biasa dipergunakan yang biasa disebut sarana retorika.

Jenis gaya bahasa yang dipergunakan penyair dalam puisi Peraduan Menanti dominan gaya klimak. Hal ini terlihat si aku akan menuju bahagia zikirya enggang usai sampai-sampai pun menyaksikan perkutuk bertasbih, daun-daun pada merunduk, ayam-ayam pada berkokok dengan tasbihnya pula.

Benarlah uraian Keraf bahwa gaya klimak adalah gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya (Azis, 2007: 107).

8. Analisis Ketata-bahasaan

Dalam puisi penyimpangan dari sistem tata bahasa normatif itu sering terjadi. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan efek kepuitisan, untuk mendapatkan eksprevitas. Begitu juga penyimpangan-penyimpangan dari tata bahasa normatif tidak lain hanya untuk mendapatkan kepuitisan atau efek puitis, yaitu untuk mendapatkan irama yang liris dan membuat kepadatan, kesegaran, serta ekspresivitas yang lain.

Ketatabahasaan yang dipergunakan Asrab, terlihat pemendekatan kata, (ku, usai, kan, wujud, dan bagia). Penghapusan tanda baca, pun terlihat, kalau ada tanda baca dipergunakan pengarang dengan maksud tertentu. Dengan demikian tanda baca dalam pusi Peraduan Menanti, tidak terlihat secara normatif, tetapi terlihat karena ada maksud penyairnya.

9. Analisis Makna Puisi

Gagasan yang ingin disampaikan dalam puisi Peraduan Menanti, seseoran yang bermunajab di pertengahan malam (shalat tahajut). Bagi si aku menuju keperaduan yang membuahkan cinta, bahagia, dan sayang dilakukan dengan munajab di setiap perempatan malam.

Dalam keheningan sepi, yang terdengar hanya kokok ayam, semilir angin sepoi-sepoi, si aku melantunkan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Yang seakan-akan berlanjut tiada hentinya. Hal ini dilakukan memang ada niat, mudah-mudahan Allah memertemukan hambanya kebahagiaan dunia dan kebahagian akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al- Israa 79

Terjemahnya: Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (Al- Israa: 79).

Makna ayat tersebut, seirama dengan hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, bahwa “Hendaklah kalian melaksanakan shalat malam karena shalat malam itu merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian, ibadah yang mendekatkan diri kepada Tuhan kalian, serta penutup kesalahan dan penghapus dosa.”


G. Simpulan

Dari analisi dapat disimpulkan bahwa puisi Peraduan Menanti penulis mengindahkan struktur lahir dan struktur batin yang digunakan pula oleh beberapa penulis puisi. Hal ini terlihat adalah sturuktur lahir seperti penggunaan bunyi, irama, diksi, bahasa kias, citraan, sarana retorika, gaya bahasa, dan ketatabahasaan. Sementara itu terlihat pula penggunaan struktur batin, yaitu makna puisi.

Tidak ada komentar: