Jumat, Oktober 10, 2014

Puisi: Karya Sejuta Pesona

Puisi: Karya Sejuta Pesona
Fungsi Puisi
Fungsi yang dimaksud adalah fungsinya  bagi kehidupan. Bukan  fungsi fraktis yang langsung dapat dipergunakan dalam kehidupan fisik atau material meskipun puisi sebagai karya sastra dapat dijual (misalnya buku puisi dapat dijual, deklamasi puisi dapat mendatangkan uang).
            Puisi merupakan karya sastra yang bermakna. Makna yang terdapa dalam puisi memiliki nilai dalam kehidupan manusia. Nilai merupakan konstruk yang disimpulkan atau sesuatu yang dianut masyarakat secara kolektif dan pribadi-pribadi. Menurut Berry (1999), nilai mengarah pada suatu konsep yang dikukuhkan individu atau anggota suatu kelompok secara kolektif mengenai sesuatu yang diharapkan, dan berpengaruh terhadap pemilihan cara maupun tujuan tindakan dari beberapa alternatif.
            Lonner dan Malpass (1994) mengemukakan bahwa nilai melibatkan keyakinan umum tentang cara bertingkah laku yang diinginkan dan yang tidak diinginkan dan tujuan atau keadaan akhir yang diinginkan atau yang tidak diinginkan
           Nilai menduduki posisi di tengah-tengah, di antara kebudayaan sebagai antenseden dan perilaku manusia sebagai konsekuensi. Karena posisinya yang sentral, maka nilai dapat dilihat sebagai variabel bebas dan variabel terikat (Hartono, 2006). Sebagai variabel bebas terhadap perilaku manusia, nilai sama fungsi psikisnya seperti sikap, kebutuhan-kebutuhan dan sebagainya yang memiliki dampak luas terhadap hampir semua aspek perilaku manusia dalam konteks sosial. Sebagai variabel terikat terhadap pengaruh-pengaruh sosial budaya dari masyarakat yang dihuni merupakan hasil pembentukan dan faktor-faktor kebudayaan, pranata, dan pribadi-pribadi dalam masyarakat tersebut selama hidupnya.
            Tarigan (1984) menguraikan bahwa karya sastra mengandung (1) nilai hedonik, yakni sesuatu yang memberikan kesenagan secara langsung, (2) nilai artistik, yakni suatu nilai keindahan sebagai manifestasi keterampilan sastra, (3) nilai etis, moral-relegius, filosofis, yakni ajaran yang ada sangkut-pautnya dengan etika, moral, agama, dan filsafat, dan (4) nilai praktis, yakni hal-hal praktis yang dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
            Nilai berfungsi sebagai standar, yaitu standar yang menunjukkan tingkah laku dari berbagai cara, yaitu (1) membawa individu untuk mengambil posisi khusus dalam masalah sosial, (2) mempengaruhi individu dalam memilih idiologi politik atau agama, (3) menunjukkan gambaran-gambaran self terhadap orang lain, (4) menilai dan menentukan kebenaran dan kesalahan atas diri sendiri atau orang lain, (5) merupakan pusat pengkajian tentang proses-proses perbandingan untuk menentukan individu bermoral atau tidak, (6) nilai digunakan untuk memengaruhi orang lain atau mengubahnya, (7) nilai sebagai standar dalam proses rasionalisasi, yang dapat terjadi pada setiap tindakan yang kurang dapat diterima oleh pribadi atau masyarakat dan meningkatkan self-esteem (Dayakisni, 2004).
            Kebudayaan yang berupa nilai-nilai yang membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan batin itu biasanya berupa pikiran dan budi manusia yang baik. Pikiran dan budi manusia yang baik itu selanjutnya menjadi prinsip yang melandasi tindak hidup manusia, sehingga manusia dewasa bersifat luhur. Nilai yang berharga yang berkaitan dengan pikiran dan budi baik manusia menjadi prinsip dan melandasi tindak hidup manusia sehingga menjadi manusia dewasa dan bersifat luhur.disebut nilai kultur edukatif (Hartono, 2006).
            Menurut Amir (1986) keberagaman nilai yang ada dalam budaya atau kultur manusia berdasarkan arah tujuan dan fungsi nilai bagi kehidupan manusia terdiri atas tiga jenis nialai, Yaitu: (1) nilai hidup ketuhanan manusia, (2) nilai kehidupan sosial manusia, dan (3) nilai kehidupan pribadi manusia. Sementara itu, Sudaryono (2002) mengemukakan nilai-nilai budaya itu secara konseptual dijadikan sebagai penggerak tindakan, perilaku, dan perbuatan manusia sebagai makhluk pribadi, sosial, dan hubungan dengan Tuhan.
            Selain memiliki nilai keindahan, sastra juga memiliki nilai ajaran yang bermanfaat bagi pembacanya. Terdapatnya keindahan, dalam karya sastra sebagai kreasi seni akan memberi kesenangan kepada pembaca. Sementara nilai kemanfaatan merujuk pada pemahaman ajaran nilai-nilai kehidupan. Kualitas nilai kesenangan dan ajaran tersebt ditentukan oleh terdapatnya harmoni dari unsur-unsur pembentuk karya sastra itu sendiri.
            Kekuatan nilai ajaran dalam karya sastra ditentukan oleh (1) kedalaman gagasan yang dikemukakan oleh penyairnya, (2) efeknya bagi pembaca dalam membangkitkan daya inspirasi dan mendorong bangkitnya daya vitalitas, dan (3) kekuatan bahasa yang digunakan sebagaimana tertampil lewat pilihan kata, ungkapan, maupun penggunaan gaya bahasa pada umumnya. Sebagai karya kreatif, kehadiran karya sastra akhirnya ditentukan bukan keterampilan teknis semata-mata tetapi juga oleh terdapatnya pencerahan batin dan daya spiritual pengarangnya.
            Wellek dan Warren (1990) menguraikan bahwa nilai yang dibahas dalam sastra meliputi (1) masalah keagamaan, berupa interpretasi tentang indah, dosa, dan keselamatan; (2) masalah nasib manusia yang berhubungan dengan kebebasan, keterpaksaan, dan semangat manusia; (3) masalah alam, mitos dan alam gaib; (4) masalah manusia yang berupa konsep manusia, hubungan manusia dengan konsep kematian dan cinta; dan (5) masalah masyarakat, keluarga, dan negara.
Lanjut, Wellek dan Waren (1990) mengemukakan bahwa   fungsi sastra termasuk puisi manis dan berguna. Puisi itu menyenangkan karena pengekspresiannya yang indah dan berguna karena isinya, apa yang diekspresikan itu berupa pikiran, ajaran, ataupun gagasan yang bagus untuk kehidupan manusia. Sementara, Hutagalung mengemukakan sastra merangsang hati kita terhadap kemanusiaan, kehidupan bahkan terhadap alam sekeliling, merangsang kita untuk lebih memahami dan menghayati kehidupan. Kemudian, Suwarjo mengemukakan bahwa di tengah gemuruhnya teknologi, puisi berusaha mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang terkikis habis oleh teknologi, puisi  berusaha mengembalikan stabilitas, mengembalikan keselarasan, dan keutuhan dalam diri manusia.
            Keagamaan memerlihatkan nafas intensitas jiwa, yaitu cita rasa yang merupakan kesatuan rasio dan rasa manusiawi ke dalam pribadi manusia (Mangunwijaya, 1988; Atmosuwito, 1989). Berdasarkan hal tersebut, dapat dipahami bahwa nilai keagamaan adalah nilai yang mendasari  dan menuntun tindak hidup ke-Tuhanan manusia dengan cara dan tujuan yang benar.
            Kata berelegi, berarti menyerahkan diri, tunduk, taat. Pengertian itu positif, karena penyerahan diri atau ketaatan dikaitkan dengan kebahagiaan seseorang. Kebahagian itu merupakan dunia baru  penuh kemuliaan yang dirasakan seseorang, sehingga perasaan seseorang terhadap agamanya semakin baik. Perasaan keagamaan sendiri adalah segala perasaan batin yang ada hubungannya dengan Tuhan, misalnya perasaan dosa, perasaan takut, kebesaran Tuhan dan sebagainya.
            Menurut Mangunwijaya (1988) relegius, realisasinya berupa kekuasaan, daya kekuatan, sumber hidup dalam kesucian baik dalam realita hidup maupun dalam alam pikiran manusia. Sedangkan agama lebih mengacu pada pengertian yang resmi, yuridis, peraturan-peraturan dan hukum-hukumnya. Cakupan pengertian agama biasanya mencakup juga segi kemasyarakatan.
            Menurut Buseri (2004) istilah nilai relegius sama dengan istilah ’nilai ilahiah’. Nilai-nilai ilahia dalam Islam ditawarkan secara terbuka dan bisa dicari hikmahnya yang tertinggi melalui proses pemaknaan atau verstehen. Ada tiga jenis nilai ilahiah, yaitu: (a) nilai imaniah, (b) nilai ubudiah, dan (c) nilai muamalah. Sementara itu, kaum Romantik menganggap nilai relegius dalam sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi, dalam anggapan ini tercakup juga pendirian bahwa sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan pemberontak (Damono, 1984).
            Manusia sebagai makhluk Tuhan, baik secara sadar maupun tidak, merasakan adanya getar-getar tertentu dalam qalbunya yang mengisyaratkan adanya keinsyafan bahwa di luar diri manusia ada kekuatan dahsyat yang berpengaruh terhadap kehidupannya. Kesadaran ini disebut kesadaran relegius (Hartono, 2006).
            Ekspansi getaran-getaran keagamaan, oleh Riyadi (1990) sejalan dengan pikiran masyarakat. Kesadaran relegius ini mampu memberikan implikasi adanya perasaan khas manusia yang mampu menggerakkan dan mengerahkan tingkah laku manusia. Puisi yang mengandung nilai relegius dapat dilihat berikut ini.

 

Peraduan Menanti
Kubalut sepi ini
Kugenggam dengan tasbih
Kurajut dengan zikir
Kumunajab pada Illah ku
Perempatan malam menjemput
Perkutuk bertasbih
Dedaunan merunduk
Sahutan kokok ayam dengan tasbihnya
Ya Karimullah
Bayu semilir
Kubermunajab pada Illah ku
Takbir, tahmid, zikir enggang usai
Di perempatan malam kudendangkan
Asa ini setia menanti uluran
Karena ia kan ujud
Bagia...
Cinta…
Sayang...
Di peraduan . . . (Cici, 2010).

Gagasan yang ingin disampaikan penulis dalam puisi Peraduan Menanti, seseorang yang bermunajab di pertengahan malam (shalat tahajut).  Bagi si aku menuju keperaduan yang membuahkan cinta, bahagia, dan sayang dilakukan dengan munajab di setiap perempatan malam. sementara keheningan sepi, yang terdengar hanya kokok ayam, semilir angin sepoi-sepoi, si aku melantunkan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Yang seakan-akan berlanjut tiada hentinya.
Puisi dapat mendekatkan diri kepada Tuhan, Sang Pencipta, Yang Maharahman seperti sajak relegius berikut ini.

Aku cukup dengan Engkau Saja
aku cukup dengan Engkau saja
dalam nikmat zikir dan sujud jiwa
aku cukup bersama-Mu saja

aku cukup dengan Engkau saja
walau orang-orang itu
mencari kesenangan di diskotik-diskotik
panti-panti pijat, hotel dan pelacuran
aku cukup di rumah-Mu saja
dalam nikmat zikir dan sujud jiwa

bukan lantaran takut aids dan raja singa
jika kujauhi pelacuran dan sauna
tetapi memang cukup bagiku
bahagia dalam cinta-Mu saja

aku cukup dengan Engkau saja
walau kursi dan mobil dinas menjauhiku
walau  dasi dan gaji besar berpaling dariku
walau ormas dan orpol mencibir padaku
aku cukup didekat-Mu saja, bahagia
dalam nikmat zikir dan sujud jiwa (Herfanda, 1996).

Sajak tersebut membawa pembaca dekat kepada  Tuhan. Untuk  dekat kepada Tuhan si aku menjauhi perbuatan maksiat yang dilarang oleh Tuhan. Si aku cukup berbahagia dalam cinta Tuhan saja.
Puisi dapat pula berintrospeksi kepada diri sendiri. Dengan introspeksi manusia dapat melihat kekurangan dirinya untuk memerbaiki dan menyadari siapa diri sesungguhnya. Hal ini tampak dalam sajak M. Taslim apa hakikat manusia sesungguhnya.

Aku dan Debu

Aku jelajah ini kota
Simpang siur jalannya
Tampak tangis darah dan daging
Mengeluh jatuh ke debu
Bertemu debu dan debu

Aku jelajah gunung dan lembah
Debu ngebul dari kakiku
Mulut bedil dan mortir
Rahang meriam, ngebulkan debu
Debu dan debu

Aku jelajah gelap dan caya
Aku debu
Seperti tangis darah dan daging
Seperti debu, keluh kakiku
Debu takdir, bedil, dan mortir

Pada akhir jalanku
Kembali pada debu
Dari Gelap dan Caya
 Di mana aku lupakan debu (Taslim Ali, dalam Jassin).

Sajak tersebut si aku merenungin dirinya, diri manusia, pada hakikatnya adalah debu atau tanah yang pada akhirnya kembali ke debu, tanah. Juga semua yang di dunia akan kembali ke debu, dan tanah. Oleh sebab itu sosok manusia harus menyadari dirinya senantiasa menyerahkan diri kepada Tuhan, mengabdi kepada-Nya. Interokspeksi atau renungan itu menyadari siapa manusia sesungguhnya yang tidak lain adalah debu. Dan yang kuasa menciptakan debu adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Sajak juga dapat membangkitkan cinta tanah air dan perjuangan untuk kemerdekaan. Dalam sajak Tanah Bahagia Sanusi Pane, si aku ingin menuju ke tanah bahagia yaitu tanah Indonesia yang merdeka. Pada waktu itu Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Oleh karena itu si aku selalu bersedih hati sengsara setiap hari. Si aku merindukan tanah bahagia yang bersinar emas permata. Secara tidak langsung si aku mengiaskan bangsa Indonesia yang menginginkan kemerdekaan seperti berikut ini.

Tanah Bahagia


Bawa aku ke negara sana tempat bah’gia
Ke tanah yang subur, dipanasi kasih cinta
Di langit biru yang suci, harapan cita
Dikelilingi pegunungan damai mulia

Bawa aku ke benua termenung berangan
Ke tanah tasik ke sucian memerak silau
Tersilang sungai kekuatan kilau kemilau
Dibujuk angin membisikkan kenang-kenangan

Ingin jiwa pergi ke sana tidak terkata
Hatiku dibelah sengsara setiap hari
Keluh kesah tidak berhenti sebentar jua

O, tanah bah’gia bersinar emas permata
Dalam duka-cita engkau mematahari
Pabila gerang tiba waktu bersua? (Sanusi Pane).

Puisi yang membangkitkan cinta kepada manusia kepada orang-orang sebangsa yang menderita. Puisi mengajak mengentas kemiskinan orang-orang yang lemah. Sajak Buat Saudara Kandung menyebut kaum sebangsa sebagai saudara kandung. Mereka adalah rakyat kecil yang hidup menderita yang harus dientas dari penderitaan dan kemiskinan. Meskipun sudah lama merdeka tetapi masih hidup dalam penderitaan.

Buat Saudara Kandung

Ke manakah engkau saudara
Orang-orang lemah dan ladang-ladang tidak berbunga
Dan anjing, yang menangis siang hari
Malam-malam menangis panjang sekali

Lenguh lembu dikejauhan
Menyebar kabar kemuraman
Sebuah dusun yang tenggelam
Kampung merana kekeringan
Cinta. Wajah-wajah menadah rawan;
Kami kehilangan

Dan kota mengepul debu
Di dadanya oto dan radio menderu
Seperti biasa
Ke sana kita, saudara

Sudah sekian ketika
Ladang-ladang tidak berbunga
Orang-orang lemah dan mereka
Hanya bisa berkata lewat caya mata
Ke manakah engkau, saudara
Jalan sudah begini jauhnya  (Andangdjaja, 1973).

Puisi merangsang untuk mencintai kebudayaan sendiri. Sering kita lupa padahal bangsa asing sering dan ingin memelajarinya dan memiliki barang kebudayaan. Ajip Rosadi berikut mengajak kita untuk memelihara kehidupan dan kesenian kita seperti berikut ini.

Terkenang Topeng Cirebon


Di atas gunung batu manusia membangun tugu
Kota yang gelisah mencari, Seoul yang baru perkasa
Dengan etalase kaca, lampu-lampu berwarna, jiwanya ragu
Tak acuh tahu, menggapai-gapai dalam udara hampa

Kulihat bangsa yang terumbang-ambing antara dua dunia
Bagaikan cermin diriku sendiri di sana
Mengejar-ngejar gairah bayangan esok
Memimpikan masa silam yang terasa kian lama kian elok!

Waktu menonton tari topeng di Istana Musimpanas
Aku terkenang betapa indah topeng Cirebon dari Kalianyar!
Dan waktu kusimak. Tang’ak tubuhku tersandar lemas
Betapa indah gamelan Bali dan degung Sunda

Bagaikan terdengar

Kian jauh aku pergi, kian banyak yang kulihat
Kian tinggi kuhargai milik sendiri yang tersia-sia
                                                                                Tak dirawat (Rosidi, 1993).

Sajak yang mengajak kita untuk mencari dan mengejar kemajuan seperti seorang pencari kebenaran dan kemajuan harus berani menghadapi kesukaran bukan berani menetang maut.
Menurut Teeuw (1980) karya sasra lahir tidak dalam kekosongan budaya, tetapi sastra lahir dalam konteks sejarah dan sosial budaya suatu bangsa, di dalamnya sastrawan merupakan salah seorang anggota masyarakat bangsanya. Di samping itu, menurut Saryono (1997) sastra merupakan interaksi yang menjadi fakta mentalis, fakta sosial dari masyarakat yang menghasilkannya. Keberadaan ini membuat tidak pernah terlepas atau tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks dan proses dialektika budaya. Misalnya saja puisi-puisi Chairil pada masa revolusi menanamkan semangat patriotisme kepada pembacanya, sementara Taufik Ismail dan kawan-kawan yang tergabung dalam Angkatan 66 dengan puisi demonstrasinya membangkitkan semangat untuk berjuang membela kebenaran.
 Fungsi  membaca karya sastra khususnya puisi adalah: (a) memberikan informasi yang berhubungan dengan pemerolehan nilai-nilai kependidikan dalam kehidupan, (b) memerkaya pandangan atau wawasan kehidupan sebagai salah satu unsur yang berhubungan dengan pemberian arti maupun peningkatan nilai kehidupan manusia itu sendiri, (c) pembaca dapat memeroleh  dan memahami nilai-nilai budaya dari setiap zaman yang melahirkan cipta sastra itu sendiri, (d) mengembangkan sikap kritis pembaca dalam mengamati perkembanban zamannya (Wellk & Warren, 1990; Sumardjo dan Saini, 1991; Semi, 1988).
            Sastrawan menulis karyanya tidak asal menuangkan ide dan gagasannya. Lingkungan sekitar sangat memengaruhi dan menjadi objek tuangan gagasan penyair.

Tidak ada komentar: